Atiko Fianti’s Weblog

cerpenku : be my valentine

Februari 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

BE MY VALENTINE …..

Cerpen by atiko

SHASA memperhatikan kelakuan sahabatnya, Fani dengan tatapan ilfil. Ini toko pernak-pernik yang kelima yang mereka masuki, tapi sepertinya Fani masih bingung dengan apa yang dicarinya.

“Tempat foto ini bagus nggak yah?” Fani mengacungkan sebuah tempat foto gantung bentuk love yang berwarna pink.

“Bagus Ni, sumpah bagus, dibanding jam dinding tadi!” dengan penuh semangat Shasa teriak.

Sebenernya Shasa nggak perduli dengan apa yang dipilih Fani. Bagi Shasa yang terpenting baginya adalah cepet-cepet keluar dari toko itu, pulang, mandi, dan tidur dengan nyenyak.

“Oke deh, aku ngambil ini aja!” Fani tiba-tiba tersenyum sumringah, “sumpah ini bener-bener seru dan lucu. Justin pasti suka, dia pasti akan langsung masang foto kita berdua di sini!”

“Pilihan yang bijaksana Ni!” teriak Shasa lega saat dilihatnya Fani ngibrit ke meja kasir.

Di perjalanan pulang, di dalam taksi, kebetean Shasa ternyata nggak hilang juga karena ternyata Fani nggak henti-hentinya ngomongin cowok tersayangnya. Ia ngeributin acara valentine-nya bareng Justin.

“Biar Valentine sekarang jatuhnya hari kamis Sha, tapi kita tetep ketemuan pada malam harinya, pokoknya nggak perduli deh walo bukan Saturday night.”

“Iya, Ni, lo bener. Valentine-an pas malem jum’at pasti seru!”

“Aku bener-bener nggak sabar deh Sha. Justin mau ngasih apa ya ke aku?”

“Jangan terlalu dipikirin Ni, pasti Justin ngasih sesuatu yang special. Tapi baiknya lo nyante aja dulu kayak di pantai, secara valentine-nya kan masih seminggu lagi!”

“Iya, ya, kamu bener!”

Ketika akhirnya Fani turun lebih dulu dari taksi, karena rumah Fani lebih dekat dari rumah Shasa, akhirnya Shasa bernafas lega. Shasa tahu, seharusnya dia nggak perlu bersikap sinis gitu sama Fani yang sangat antusias dalam menyambut hari yang kata orang-orang disebut sebagai hari kasih sayang. Tapi tetep aja Shasa nggak bisa menutupi perasaan betenya. Masalahnya, ini adalah valentine kesekian, well, tepatnya yang kedua yang harus Shasa lewatkan seorang diri.

Nasib percintaan Shasa emang gak semujur sohib-sohibnya. Sudah dua tahun ini Shasa jomblo. Mantan Shasa, Ken, ternyata kepincut sama mahasiswi baru dan ninggalin Shasa gitu aja. Dan itu bener-bener mimpi buruk bagi Shasa, bikin Shasa terluka, sehingga Shasa jadi selalu bersikap sketpis kalo temen-temennya ngeributin valentine.

zwani.com myspace graphic comments

“LO lebih suka baju yang mana Sha? Yang pink atau yang merah tadi?” Andin melirik Shasa sekilas sambil matanya sibuk memperhatikan dirinya di depan cermin.

Oh… No…. Shasa langsung memijat kepalanya. Setelah Fani, kini gantian Andin yang bikin Shasa bete, karena sama seperti Fani, Andin juga ribut mempersiapkan acara valentinenya bareng Denis, cowoknya.

“yang merah aja Din, yang pink itu norak!”

“Serius?” Andin nampak ragu. Andin merasa bahwa ia keliatan sangat imut dan cantik dengan baju pink yang melekat di tubuhnya sekarang. Tapi karena Shasa bilang baju merah yang nggak keliatan norak, akhirnya Andin memutuskan untuk membeli baju merah saja.

“Iya serius Din, kamu tampak luar biasa dengan baju merah itu!” Shasa tersenyum menyakinkan.

Andin akhirnya melangkah cepat ke kasir untuk membayar baju yang dipilih Shasa.

“Kenapa berbohong?” Tamy tiba-tiba berdiri di samping Shasa. Tamy adalah sohib Shasa di kampus selain Fani dan Andin.

‘Hah, apa?” Shasa bingung menatap Tamy.

“Akuilah, baju pink tadi lebih imut kemana-mana dibanding baju merah. Kenapa lo milihin Andin baju model jelek itu Sha?”

“Ya, abis Andin-nya aja yang bego, nanya ke gue. Dia piker gue pakar baju apa!”

“Itu karena Andin percaya sama elo. Elo seharusnya jangan ngerusak kepercayaannya!”

“Udah sih Tam, kenapa elo mesti ngeributin hal ini?”

“Gue bukan ngeributin. Gue cuma sebel aja sama sikap lo sama kita. Kayaknya sinis gimana gitu. Bukan salah kita dong kita punya cowok dan happy dengan hidup kita.”

“Maksud lo?”

“Maksud gue, lo tuh terlalu asik dengan perasaan sedih lo. Sehingga bawaannya senga melulu sama kita.”

“Astaga, kok lo tega nuduh gue kayak gitu Tam?”

“Emang kenyataan. Udah sih, lupain Ken. Cowok kayak dia tuh nggak layak untuk ditangisi.”

“wa… wait… kenapa jadi bawa-bawa Ken segala?”

“Karena pokok masalahnya emang dia. Karna dia lo yang ceria jadi berubah aneh kayak gini. Murung nggak jelas gitu. Please Sha, bangkit oke? Jaman udah semakin berubah. BBM naik dan harga sembako juga makin mahal.”

“Lah, apa hubungannya dengan harga sembako?”

“Gak ada.” Tamy nyengir. “I just wanna my best-friend come back. Jadi seperti dulu lagi.”

zwani.com myspace graphic comments

DI Kamarnya, Shasa merenungi kata-kata Tamy tadi sore. Tamy benar, Shasa selama ini memang tidak begitu antusias dalam menjalani hari-harinya. Dan itu semua karena seorang Ken. Shasa terpuruk karena Ken. Perilaku yang bodoh sebenernya, karena toh Ken bener-bener nggak pernah perduli lagi padanya.

Iam so stupid,” Shasa akhirnya menghapus air yang tiba-tiba tergenang di sudut matanya. “Gue udah nyia-nyiain waktu gue selama ini. Gue harus bangkit, harus!” sebuah ide gila tiba-tiba muncul di benak Shasa, membuat bibir Shasa tersenyum lebar.

zwani.com myspace graphic comments

“LO apa?” Tamy menjerit, jeritannya ngalahin suara Clay Aiken kalo lagi nyanyi nada tinggi. “Lo gila Sha, sumpah!”

“Nyante aja kali Tam, jangan histeris gitu!”

“Gimana gue nggak histeris kalo lo ngirim surat cinta untuk Revan.”

“Loh, apa yang salah?” sahut Shasa sambil menyendok baksonya lagi.

“Semuanya Sha. Semuanya salah. Halooo…. Kita lagi ngomongin cowok yang sama kan? Revan yang kita bicarakan ini adalah Revan yang jadi incaran temen2 seantero kampus kita?”

“Iya, Revan yang itu.” Lagi-lagi Shasa tersenyum.

“Wah, lo perlu diperiksa Sha,”

“Buat apa? Gue toh nggak sakit.”

“Sebenernya apa sih yang lo tulis untuk Revan?” nada tinggi Tamy balik lagi.

“Singkat aja, gue hanya ngirim dia puisi, terus di akhir tulisan gue, gue nanya ke dia, would you like to be my valentine?”

“Apa?!”

zwani.com myspace graphic comments

Shasa menatap hapenya dengan gelisah, menunggu kalau-kalau hapenya bunyi. Baik itu SMS atau telepon. Apalah, terserah, yang penting Revan menghubunginya.

Shasa hanya perlu jawaban, mau atau tidak Revan dinner dengannya di hari Valentine. Hanya dinner biasa, Shasa yang traktir. Shasa hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menghabiskan waktu beberapa saat dengan cowok terpopuler di kampusnya. Shasa tahu perbuatannya mengirimkan surat buat Revan adalah perbuatan gila. Ia juga sadar hal itu akan jadi gunjingan kalo temen2 di kampusnya tahu.

Shasa sebenernya hanya ingin suatu perubahan. Suatu lompatan. Tapi ia sadar bahwa lompatannya sepertinya terlalu jauh.

Waktu terus berjalan. Dan rasanya begitu lambat. Dari hari berubah menjadi jam. Dari jam berubah menjadi menit. Dari menit menjadi detik, sampai akhirnya hari valentine terlalui tanpa ada jawaban apa-apa dari Revan.

zwani.com myspace graphic comments

“Gue bilang juga apa, perbuatan lo ngirim surat ke Revan bakal jadi gunjingan!” Tamy berjalan di samping Shasa dengan langkah lebar, karena langkah Shasa juga lebar.

“Gue heran deh Tam, kok temen-temen bisa tahu gitu ya?”

“Yaelah, lo kayak nggak tau si Yudi aja, sohibnya Revan. Dia kan tukang gossip nomor satu di kampus kita, kalah deh para cewek. Lagian lo lagi nitip surat buat Revannya lewat Yudi, ya beginilah jadinya. Duarrr…. Semuanya jadi ngasih komentar.”

“Terus, menurut lo, gue harus gimana Tam? Nggak mungkin kan gue minta surat itu balik?”

“Ya enggaklah, gila apa!” Tamy tiba-tiba menghentikan langkahnya saat dilihatnya motor Khresna menuju ke arahnya. “Khresna udah jemput gue, gue balik duluan ya?”

Shasa mengangguk. Ia lalu melambaikan tangan ke arah Tamy saat motor yang ditumpangi Tamy dan cowoknya berlalu dari hadapannya.

Shasa akhirnya duduk di sebuah bangku di samping pelataran parkir yang luas. Perasaan Shasa bener-bener tak menentu. Komentar teman-temannya benar-benar membuat perasaaan Shasa terganggu. Mereka sudah mengatakan hal-hal yang tidak enak dan menyakitkan hati Shasa.

“Eh Sha, lain kali, kalo mau ngajak Revan kencan, ngaca dulu. Lo sama sekali bukan level dia.” Ayu menatap Shasa sewot.

“Sha, please deh ah. Cowok yang bukan siapa-siapa kayak Ken aja ninggalin elo, mana mungkin cowok yang siapa-siapa seperti Revan tertarik sama elo?” Nisa tersenyum sinis ke arah Shasa.

“Lo tau nggak sih Sha, Revan kan lagi jalan sama sepupu gue. Itu loh artis sinetron yang lagi naik daun. Lo jangan macem-macem deh kalo nggak mau bonyok.” Adiz mengancam Shasa dengan penuh amarah.

“Inget sha, nyebut, but… but… gituh. Keinginan lo ngajak Revan kencan itu terlalu berlebihan. Tahu nggak sih.” Sekar menatap Shasa prihatin.

Astaga, Shasa bengong. Gue kan cuma mau ngajak Revan dinner, bukan ngajak cowok itu menikah. Lagian Revan juga nggak menggubris ajakan gue. Lalu masalahnya dimana?!

Sedang sibuk-sibuknya Shasa mencari jawaban masalahnya dimana, lampu mobil tiba-tiba menyilaukan pandangan Shasa. Shasa langsung memperhatikan orang yang turun dari mobil itu. Dan dia terperangah.

Ken.

What the h**l is Ken doing here?!

Ken tampak tersenyum lebar ke arah Shasa. “apa kabar Sha? Sudah lama ya kita nggak ketemuan dan ngobrol. Kamu mau pulang?! Aku antar ya?”

zwani.com myspace graphic comments

Suara Revan nampak terdengan jelas (dan merdu) di telinga Shasa saat Revan sedang menjawab pertanyaan yang diajukan dosen mereka. Shasa memperhatikan situasi di sekitarnya. Kelas nampak penuh dan crowded. Kalau ada Revan, kelas emang selalu penuh. Revan sepertinya jadi magnet yang mujarab bagi temen-temen cewek Shasa untuk rajin kuliah.

Shasa lalu tersenyum kecil. Salah satu hal yang disukai Shasa dari Revan adalah kepintarannya. Kalo cowok super smart selama ini kebanyakannya bertampang aneh, pas-pasan, dan ya gitu deh. Tapi Revan pengecualian.

Selain goodlooking, Revan juga sangat smart. Hampir tiap tahun Revan terpilih sebagai mahasiswa berprestasi akademik terbaik. Jadi nggak heran kalo Revan jadi langganan penerima beasiswa. Bahkan kabarnya, Revan juga udah disponsori suatu lembaga swasta untuk ngambil S-2 di luar negeri.

Itulah kelebihan Revan di mata Shasa dan temen-temen cewek Shasa lainnya. Dan hebatnya lagi, biar pinter, Revan nggak sombong. Padahal banyak banget temen cowok Shasa yang sombong, padahal mereka sama sekali nggak smart.

Lamunan Shasa tiba-tiba terhenti, saat Revan tiba-tiba menatap ke arahnya dan tersenyum padanya. Shasa langsung mengucek-ngucek matanya, berharap bahwa penglihatannya tidak salah.

zwani.com myspace graphic comments

Bulan Februari adalah bulan full of rain. Selalu saja hujan dan hujan. Shasa menatap kesal ke arah awan yang menghitam, menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Shasa berharap hujan tidak turun dengan deras. Shasa takut Jakarta banjir lagi kayak yang terjadi hari Jum’at, awal Februari lalu. Rumah Shasa sih nggak kebanjiran. Tapi akses menuju rumah Shasa tertutup oleh air. Walhasil Shasa terpaksa menginap di tempat Andin, karena kos-an Andin terletak di belakang kampus sehingga Shasa nggak perlu bolos kuliah.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di samping Shasa. Dan Shasa tahu siapa pemiliknya. Ken. Sudah hampir seminggu ini Ken gencar mendekatinya. Shasa tidak tahu maksud Ken apa. Tapi Shasa tak perduli. Bukan Shasa geer atau apa. Tapi kalo semisalnya Ken mau ngajak Shasa balik lagi, Shasa nggak mau. Bukan apa-apa, Shasa sekarang udah bisa berdamai dengan keadaan. Dan bisa hidup tanpa Ken lagi dan ceria lagi seperti dulu. Dan yang terpenting, perasaan sayang Shasa untuk Ken udah menguap entah kemana.

“Sha, masuklah. Biar gue anter pulang!” Ken keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Shasa. “Cuaca mendung sekali, pasti sebentar lagi hujan lebat.”

Shasa ragu sejenak, ia bingung apakah harus menolak atau menerima ajakan Ken. Tapi Shasa kemudian menggeleng, “enggak Ken, makasih, biar aku naik ojek aja.”

“Naik ojek?” Ken teriak, “please Sha. Kamu bisa sakit karena hujan-hujanan!”

“Nggak apa-apa Ken, it’s oke. Aku suka.”

“Suka sakit?”

“Suka main air.”

“Tapi…”

I’ll be fine, Ken, ok?”

Ken ragu sejenak, tapi kemudian menyerah. Ken lalu masuk lagi ke mobilnya dengan enggan, “baiklah, tapi be carefull ya?”

I will,” Shasa tersenyum dan melambai ke arah Ken.

Dalam hitungan detik, mobil Ken sudah hilang dari pandangan Shasa. Shasa merenung sebentar. Ada perasaan sedih di hati Shasa. Tapi Shasa langsung menepis rasa itu, karena sepertinya rasa lega lebih banyak melingkupi hatinya daripada rasa sedih. Shasa mulai merasa bahwa langkahnya ke depan tidak goyah lagi, tidak seperti hari yang sudah-sudah.

Hujan pun akhirnya turun rintik-rintik. Shasa menengadah menatap langit dan tersenyum gembira. Sebenarnya Shasa membawa payung, tapi entah kenapa ia malas membuka payungnya.

Dengan langkah ringan, Shasa akhirnya berjalan menembus hujan. Tapi tiba-tiba, sebuah payung menaungi tubuh Shasa. Shasa menghentikan langkah dengan kaget. Dan kekagetannya bertambah saat melihat siapa yang memayungi mereka berdua.

Revan.

Revan terlihat tampan, tinggi dan tersenyum pada Shasa.

“Kamu nggak takut sakit hujan-hujanan seperti ini?” senyum Revan nggak juga hilang.

“A.. apa?” Shasa gelagapan. Ia sibuk mencubiti dirinya sendiri, untuk mencari tau apakah yang dialaminya real atau hanya halunisasi.

Revan tiba-tiba tertawa. “Makasih ya Sha puisinya. Puisi kamu bagus, aku suka. Waktu V – day itu, aku sebenernya ingin banget nerima tawaran traktiran kamu. Aku ingin pergi sama kamu, tapi sayangnya aku sibuk sekali.”

“Sibuk?”

“Ya, aku kerja. Aku dapat shift malem.”

“Emang kamu kerja di mana?” Shasa heran.

“Di restoran Om-ku. It’s not big deal. Aku udah melakukan hal ini dari dulu kok.. Sekali lagi maaf ya.”

It’s ok. Nggak apa-apa lagi, gue ngerti.” Shasa langsung tertawa, masih tak mempercayai keberuntungannya.

“Sungguh?”

“Ya.”

“Oke deh kalo gitu. Jadi kamu bisa traktir aku sekarang dong? Aku laper banget nih!”

“Traktir kamu sekarang?” Shasa menatap Revan kaget. Ia bingung memikirkan kondisi keuangannya. Saat ini Shasa cuma punya duit lima puluh ribu. Gak lebih gak kurang. Pas.

“Kenapa? Berubah pikiran?” Revan tertawa.

“Eng… enggak sih. Ehm.. kalo makan bubur ayam cakwe yang di deket halte itu aja gimana? Gue lagi ingin makan bubur ayam.”

“Bubur ayam fine. Aku juga suka bubur ayam.”

Shasa langsung berteriak senang dalam hati. Hidup Bubur Ayam.

“Sha,” saat mereka kembali berjalan menembus hujan, Revan tiba-tiba ngomong lagi.

“Ya?”

“Menjawab pertanyaan kamu di surat kamu apa aku mau jadi your valentine. Jawabannya ya, i want to be your valentine. Walo sekarang valentine-nya udah lewat, tapi bagiku setiap hari adalah hari kasih sayang.”

Shasa tertegun. Dia bener-bener speachless, nggak percaya dengan pendengarannya.***

Jakarta, 14 Februari 2008

(Note : curahkan rasa cinta dan rasa sayang untuk orang2 di sekeliling kamu selagi kamu punya kesempatan untuk melakukannya dan lakukan itu dengan hati yang tulus. Happy V – day untuk orang2 yg gue sayangi : Mom, July, Ryan, Sandy, Liani, Iwa, Melda, Dian, de club : emak Roro – pa kabar mak?!…. fida, – gila2an lagi yuk nek! (hah, kapan gue jadi nenek lo?! Hahaha), Dewi… lo still the best dah… jgn kapok untuk terus sibuk yah. neri, devi jgn pada berantem dunk…., dimas…. Si rocker “cool” satu itu…. (whoa si adek… baca tulisan gue gak yah, hehehe)…. Poko’nya buat smuanya dah… luv U all…… muaah, buat yang gak gue sebutin, bukan berarti gue gak cinta….. hahaha.. .hanya capek aja gue nulisnya kebanyakan….yuks….)

Kategori: cerpenku

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.