Le Grand Voyage, perjalanan spiritual ke tanah suci
Di antara waktu luang, terkadang gue iseng nyewa film. Maklum hobi nonton. Kebanyakan sih film2 lama, tapi film baru juga tetep dicari. Dari mulai serial Korea yang dibintangi Rain, cowok ter-cool sekorea, hehe.. sampe film2 yang dibintangi Shakruk Khan (ups, jangan salah, gue ngefans loh sama Sakhruk.. abis kalo dia akting, dalem banget, kalah sumur…)
Dari sekian banyak film yang udah gue liat, ada satu film yang menurut gue remarkable banget. Yaitu, Le Grand Voyage, film berbahasa Perancis produksi Humbert Balsan yang diproduksi tahun 2004.
Film ini dibintangi oleh Nicolas Cazale dan Mohamed Majd. Bercerita tentang perjalanan seorang pria (yang ditemani anak cowoknya) yang menunaikan ibadah haji ke tanah suci dengan menggunakan mobil. Jarak yang harus ditempuh (untuk pergi) adalah kurang lebih 5000km. Serius?! ya iyalah Seurius, masa the cangcuters, hehehe…
Sebenernya kalo dari segi visual, visualisasi film tersebut biasa2 aja, tapi dari segi ide cerita dapet banget. Sederhana, tapi cukup mengena di hati, sangat bagus untuk menambah wawasan spiritual kita.
Film dibuka saat Reda (Nicolas Cazale) diminta ayahnya (Mohamed Majd) untuk menemaninya sekaligus menyupirinya ke tanah suci umat muslim, yaitu Mekah.
Tadinya ayah Reda akan mengajak kakak Reda (Khalid) untuk pergi, tapi berhubung surat2 kendaraan Khalid disita polisi karena Khalid melanggar lalu lintas, akhirnya Redalah yang mendapat tugas menemani ayahnya. Reda merasa kesal karena ia sebenarnya akan menjalani ujian akhir, tapi ia tak bisa menolak permintaan ayahnya.
Ayah Reda dan keluarganya sudah bermukim di Perancis selama kurang lebih 30 tahunan. Keluarga mereka adalah imigran asal Maroko.
Saat mau pergi, Khalid (kakak Reda) meminjamkan kameranya pada Reda. Ia berpesan agar Reda mengabadikan foto selama perjalanan. Tapi sayangnya saat melewati Milan dan Venesia, ayah Reda tidak mengijinkan Reda untuk menghentikan mobilnya. Padahal Reda ingin sekali mengambil foto dan melihat2 keadaan. Ayahnya bilang bahwa mereka pergi bukan untuk bertamasya.
Di perjalanan, Reda selalu berkomunikasi dengan pacarnya, Lisa lewat hape. Saat Reda tidur, ayahnya membuang hape Reda ke tong sampah.
Menuju Beograd, mereka tersesat, jalan yang mereka lewati tidak ada di peta. Reda ingin balik arah ke Zagreb untuk langsung menuju jalan tol ke arah Beograd, tapi ayahnya keukeuh menyuruhnya lewat jalan kecil. Di persimpangan, Reda bertanya mau ke kiri atau ke kanan, ayahnya melihat ke arah langit, lalu memutuskan untuk bermalam di tempat tersebut.
Esok paginya, saat melanjutkan perjalanan, mereka bingung harus kemana. Mereka tiba2 ketemu ibu tua yang berpakaian hitam2 di daerah terpencil tersebut (tanpa membawa koper dan lainnya). Saat bertanya kemana arah menuju Beograd, ibu itu diam saja, dia malah masuk mobil dan menumpang mobil mereka. Tangannya hanya menunjukkan bahwa mereka lurus saja.
100km menuju Beogrod, dokumen mereka diperiksa petugas. Saat Reda melihat ke tempat duduk belakang, ibu itu menghilang, tapi melewati perbatasan, ibu itu tiba2 mencegat mobil mereka dan ikut lagi. Kali ini dia bilang kalo dia ingin ke Delic.
Reda dan ayahnya bertanya pada orang2 dimana Delic berada, tapi tak ada yang tahu. Mereka akhirnya meninggalkan ibu tersebut di suatu penginapan yang mereka lewati.
Dalam perjalanan menuju kota Sofia, mereka terjebak dalam salju. Sambil menunggu badai salju, Reda bertanya pada ayahnya kenapa mereka tidak pergi ke Mekah dengan menggunakan pesawat saja, ayahnya bilang:
“saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Air laut menguap ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar. Itulah sebabnya lebih baik naik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.”
Ayah Reda juga bercerita : “ketika aku kecil, almarhum kakekmu berangkat (menunaikan ibadah haji) dengan naik keledai. Kakekmu lelaki pemberani, tiap hari ayah naik ke atas bukit, di sana ayah bisa lihat cakrawala. Ayah ingin menjadi orang pertama yang melihat (cakrwawala) itu kembali.”
Cuaca berubah tambah buruk, di dalam mobil, Reda kedinginan, ia tak bisa tidur karena terlalu dingin. Tapi akhirnya ia tertidur juga. Saat Reda bangun, mobil mereka terkubur salju, dan ayahnya pingsan kedinginan.
Reda lalu membawa ayahnya ke rumah sakit di kota Sofia. Mobil mereka diparkir di stasiun kota, mereka pergi ke rumah sakit dengan naik taksi. Saat ayahnya bangun, ia minta Reda untuk mengambilkan buku doa di laci mobil mereka. Redapun pergi untuk mengambil buku doa yang diminta ayahnya. Dalam perjalanan, di pinggir jalan Reda melihat ibu tua yang pernah menumpang mobil mereka.
Memasuki Turki, Reda mengalami masalah karena paspornya dianggap bermasalah. Mereka tertahan di perbatasan selama satu jam. Untung ada seorang pria (Mustapha) yang bisa berbahasa Perancis yang membereskan masalah itu. Mustapha lalu ikut mobil mereka dan minta Reda mengantarkan dirinya ke rumahnya di Istambul.
Mustapha meminta Reda untuk minum teh di rumahnya, Reda menerima tawaran itu, tapi ayahnya menolaknya. Mustapha kemudian minta pada mereka agar mengijinkannya ikut pergi ke tanah suci.
Di Istambul, Reda melihat2 keindahan masjid di sana. Ada satu masjid yang bernama masjid biru, dimana konon di masjid itu terdapat potongan Hajar Aswad.
Bersama Mustapha akhirnya Reda bersenang2 minum bir. Keesokan harinya saat Reda dibangunkan oleh ayahnya, uang ayahnya ternyata hilang dicuri. Mereka menuduh Mustapha mengambil uang mereka tapi Mustapha menolak tuduhan tersebut.
Reda dan ayahnya akhirnya melanjutkan perjalanan. Ayah Reda ternyata masih menyimpan cadangan uang yang ia selipkan di ikat pinggangnya. Uang itu sebenarnya untuk ongkos pulang mereka.
150km ke arah Damaskus, mobil mereka panas karena melewati gurun. Mereka lalu berhenti di sebuah sumber air di daerah gurun tersebut. Saat Reda sedang menuangkan air ke mobilnya, ada seorang janda dengan anaknya yang meminta uang. Tapi Reda acuh saja, tapi saat janda itu meminta uang pada ayahnya, ayahnya langsung memberikan. Reda langsung marah2, dia bilang bagaimana mungkin mereka menghamburkan uang saat mereka kekurangan uang.
Melihat kemarahan Reda, ayahnya menyarankan agar mereka menjual mobil mereka di Damaskus, setelah itu Reda boleh pulang naik pesawat, karena dari Damaskus, ayahnya bisa melanjutkan perjalanan seorang diri. Ia tak butuh Reda lagi.
Di dalam mobil, ayahnya menawari Reda roti, Reda menolak, ia bilang roti tidak cukup untuk mensuplai tenaganya. Ia butuh daging. Ayah Reda akhirnya menukar kamera kakak Reda dengan seekor kambing.
Reda merasa terganggu dengan keberadaan kambing di mobil mereka, ayahnya akhirnya memutuskan untuk memotong kambing itu saja, tapi saat mau dipotong, kambing itu malah lari.
Sampai di Arab Saudi, mereka bertemu dengan orang2 yang juga akan menunaikan ibadah haji. Mereka juga datang dengan menggunakan mobil, bis dan yang lainnya. Mereka ngobrol tentang asal usul negara mereka, ayah Reda bilang :
“Kami dari Perancis. Kami menempuh perjalanan 5000 km untuk sampai ke sini. Kami melewati Italia, Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Syria, Yordania.”
Mereka lalu sholat berjamaah. Reda bertanya pada ayahnya, apa istimewanya Mekkah sehingga ayahnya ingin pergi ke Mekah. Ayahnya bilang:
“Mekah adalah tempat suci umat muslim. Berjuta2 orang datang ke sana untuk melakukan ibadah haji. Ayah harus memenuhi panggilan melakukan ibadah tersebut sebelum ajal menjemput.”