Maret 3, 2009...11:17 p

Slumdog Millionaire, Bikin Penasaran

Lompat ke Komentar

Gue mencoba mencermati, apa yang menarik dari Slumdog Millionaire sampe berhasil meraih predikat prestisius dari Oscar yaitu kategori Best Picture (dan pastinya penghargaan lainnya). Dan menurut penilaian gue, adalah screenplay-nya bagus bangets. Ada banyak adegan flash-back di sana, tapi semuanya tetap menjadi satu kesatuan yang utuh dan bikin penasaran. Nonton Slumdog Millionaire bikin gue nggak beranjak, sampe film itu benar2 selesai.

Seperti kita ketahui, Slumdog Millionaire adalah film adaptasi dari novel karya Vikas Swarup (seorang novelis India yang berprofesi juga sebagai seorang diplomat), yang punya judul asli Q & A, yaitu sebuah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda miskin yang berasal dari wilayah kumuh di Mumbai, India, yang berprofesi sebagai waiter, yang akhirnya bisa jadi jutawan karna kuis Who Wants To Be A Millionaire? (di India kuis itu dikenal dengan nama Kaun Banega Crorepati). Si pemuda, yaitu Ram Mohammad Thomas (di versi film namanya Jamal Malik), kemudian dituduh curang dalam menjawab pertanyaan di kuis tersebut, lalu dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi walopun tanpa bukti.

Novel karya tuan Swarup itu ternyata emang mendapat pujian dari banyak kritikus sastra dan berhasil memenangi penghargaan Exclusive books boeke prize 2006 di Afrika Selatan dan The Prix Grand Public at the 2007 dari Paris Book Fair. Bahkan novel tersebut selain jadi bestseller, juga udah diterjemahin ke dalam 40 bahasa.

Nah, yang ingin gue pertanyakan di sini adalah, apakah versi novel dan versi film itu mirip (soale, gue blom baca novelnya, hehe), tapi hanya menebak-nebak saja, sepertinya sih tidak (sotoy bangets, xixixi). Yah, namanya juga adaptasi, pasti hasilnya beda. Itulah salah satu kelebihan Slumdog Millionaire seperti yang udah gue bilang di atas, yaitu pada screenplay-nya.

Adalah Simon Beaufoy, seorang penulis skenario asal Inggris, yang membuat Slumdog Millionaire jadi menarik. Beaufoy udah cukup lama berkiprah di bidang film. Hasil karyanya udah cukup banyak, diantaranya Closer (1998), The Darkest Light (1999), This is not a love song (2001) dan yang lainnya. Kerja keras Beaufoy untuk Slumdog Millionaire ternyata ga sia2 secara dia berhasil memperoleh penghargaan best screenplay dari Golden Globe, best adapted screenplay dari Academy Award dan juga dari BAFTA award.

Tapi of course, cerita ga akan terjalin dengan indah tanpa karakter kuat dari para pemainnya (ada Dev Patel yang manis, Freida Pinto, Anil Kapoor, Irrfan Khan, Ayush Mahesh Khedekar, Tanay Chheda, Saurabh Shukla, dll). Dan itu terjadi atas arahan yang pintar dari Danny Boyle yang dibantu asistennya Loveleen Tandan. Mr. Boyle selain dapet penghargaan best director dari BAFTA, Golden Globe dan Academy Award, dia sama Loveleen Tandan juga berbagi piala kemenangan yang dihadiahkan New York Film Critics Online Award. Sebelum Slumdog Millionaire, Mr. Boyle pernah menyutradarai Trainspotting (film tentang pecandu heroin yang juga diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama), 28 days later (film fiksi ilmiah) dan Sunshine.

Gimanapun, Slumdog Millionaire berhasil menjadi film yang asik ditonton karena teamwork dari semua pihak yang terlibat, benar2 okeh, termasuk casting para pemainnya. Nuansa perkampungan India yang kumuh juga terasa kental disana, walo kabarnya, setting yang diambil di India sebenarnya hanya 20% saja. Potret negara India (kota mumbai) sebagai negara asia yang crowded tergambar jelas. Gambaran yang sebenernya ga berbeda jauh dari Jakarta.

Tapi, ada yang aneh for me di sini. Emang itu pembawa acaranya (Anil Kapoor) segitu irinya sama si Jamal sampe ngasih jawaban (di kaca toilet) salah segala?! Bukankah seorang host (apapun acara yang dibawainnya, terlebih2 acara kuis), harus bersikap netral dan honest?!. Whatever-lah. Toh, emang begitu adanya.

Tinggalkan Balasan

You must be logged in to post a comment.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.