Atiko Fianti’s Weblog

Belajar (Sedikit) Dari Menonton ‘Ketika Cinta Bertasbih’

Juni 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hm…. dari sekian banyak film yang bergenre horor dan komedi, akhirnya muncul juga film yang bernuansa islam yang kabarnya menjadi film yang paling ditunggu masyarakat muslim Indonesia, yaitu Ketika Cinta Bertasbih (KCB)

KCB diangkat dari novel best-seller karya Habbiburrahman El Shirazy dan diproduksi oleh SinemArt Pictures. Lima pemeran utama film ini diambil berdasarkan casting yang dilakukan di beberapa kota besar di Indonesia, sehingga terpilih :

- Cholidi Asadil Alam sebagai Khairul Azzam (asal Pasuruan).

- Oki Setiana Dewi sebagai Anna Althafunnisa (asal Batam).

- Alice Norin sebagai Eliana Pramesti (asal Jakarta).

- Andi Arsyil Rahman sebagai Furqon (asal Makassar).

- Meyda Sefira sebagai Ayatul Husna (asal Bandung).

Mereka  berlima lolos setelah menyisihkan kurang lebih 6000 peserta.

Film ini disutradarai oleh Chaerul Umam dengan Imam Tantowi sebagai screenplay-nya.

Film ini mengisahkan tentang perjuangan pemuda Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir, yang bernama Khairul Azzam (diperankan M. Kholidi Asadi Alam). Azzam harus menyelesaikan kuliahnya selama 9 tahun karena keasikan bekerja sebagai tukang tempe dan tukang bakso untuk membiayai ibu dan ketiga adik  perempuannya di kampung (Solo) karena ayahnya sudah meninggal.

Tapi yang menurut gue kurang di sini adalah aktivitas Azzam dalam bekerja kok kurang keliatan yah?!…. katanya tukang bakso?! tapi aktivitas dia jualan bakso ga ada… hanya menggambarkan saat dia bikin tempe doang, itupun scene-nya sedikit, jadi kurang terlihat aja gimana kerja kerasnya Azzam.

Masakan Azzam ceritanya terkenal sampe KBRI Mesir, sehingga Azzam bisa kenal dengan putri Dubes, yaitu Eliana Pramesti (Alice Norin).

Eliana sepertinya suka sama Azzam, demikian juga Azzam, tapi sayangnya, tipe wanita seperti Eliana bukan wanita idaman Azzam untuk dijadikan isteri karena Eliana tidak berjilbab dan gaya hidup Eliana juga sudah terkontaminasi gaya hidup orang bule.

Supir Eliana, yaitu Pak Ali (Didi Petet) menyarankan pada Azzam agar melamar putri Pak Kyai yang bernama Anna Althafunnisa (Oki Setiana), S2 dari Kuliyyatul Banaat  (Alexandria). Saat niat itu disampaikan pada Ustadz Mujab (Habiburrahman El-Shirazy) ternyata Anna sudah dilamar oleh Furqon (Andi Arsyil Rahman). Azzam terpaksa menahan kekecewaannya.

Tapi tanpa Azzam sadari, ia sudah bertemu dan berkenalan dengan Anna. Hal itu terjadi saat ia menolong Anna mendapatkan buku -buku Anna yang ketinggalan di sebuah bis.

Di kampung, Anna berkenalan dengan Ayatul Husna (Meyda Sefira) yang berprofesi sebagai novelis yang merupakan adik Azzam.

Singkat cerita, Anna yang sudah kembali tinggal di rumah orangtuanya  mau menerima lamaran Furqon dengan syarat tidak mau dimadu atau tidak mengijinkan Furqon menikah lagi dengan wanita lain saat sudah menikah dengan dirinya (setuju banget gue sama Anna, hahaha… hidup Anna! ke laut aja para cowo yang suka mendua ato mentigakan wanita, heuheuheu……). Tanpa Anna tahu, Furqon, suaminya ternyata mengidap virus HIV.  Virus itu Furqon dapet dari suntikan komplotan pemeras yang sengaja menjebaknya waktu Furqon masih di Mesir dan belum pulang ke tanah air.

Film kemudian bersambung……………… lah kok bisa?! itu dia yang ga bikin greget, KOK BISA?! mungkin pengen bikin penonton penasaran kali yah, tapi sayangnya gue ga penasaran….

kenapa sih ga ditamatkan saja sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh?! kesannya kan jadi eklusif gituh!… walo novelnya terbagi dua bagian tapi kan filmnya bisa dijadiin satu?!….. ga cool ah, ga asik, nonton film kayak nonton sinetron ajah….

yang jelas, dari kemasan yang disusun serapi dan seapik mungkin jadi berantakan gara2 endingnya yang gantung…..

yang juga sangat disayangkan di sini adalah gambar2 di kota Kairo atau Alexandria sedikit sekali ditampilkan. Padahal katanya biayanya udah mahal banget untuk syuting di sana. Keindahan sungai nil kurang terekspose, kesibukan di sekitar sana juga kurang. Blum lagi pyramid-nya, hanya ditampilin secara sekilas aja, jadinya kurang eksotik.

Dan yang bikin penasaran, adalah saat diadakan jamuan makan malam di halaman Dubes, langitnya keliatan aneh, itu asli atau hasil tempelan?!…. heuheu… ada2 aja….

tapi ya sudahlah, lepas dari kemasan yang dibuat, masyarakat sangat antusias kok untuk menontonnya. Kabarnya penonton lebih membludak dari film Ayat-Ayat Cinta yang juga jadi box- office. Dan kabarnya lagi film ini akan turut ditayangkan di negara2 seperti  Mesir, Brunei, Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan dan Australia.

Ada sedikit pembelajaran yang bisa kita dapet dari menonton KCB karena  KCB mengetengahkan  pesan2 religius, yang menyejukan hati dan bisa dijadiin bahan acuan.  Khususnya tentang perjuangan hidup,  kesucian cinta serta ketulusan dan ketabahan hati.

Kategori: Film

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.