RSS

Berbagai Tradisi Di Indonesia Seputar Bulan Puasa dan Lebaran (1)

05 Agu

Ga berasa udah memasuki puasa hari kelima ajah… alhamdulillah…. tetap semangat yaa semuah… o,ya kalo kamu lagi punya waktu luang dan ga tau musti ngapain, kita intip yuk tradisi puasa di beberapa daerah tanah air tercinta Indonesiah… seru2 loh… liat ajah…

Tradisi Meugang Di Nangroe Aceh Darussalam

meugang day

Di negeri Serambi Makkah, Nangroe Aceh Darussalam, tradisi menyambut Ramadhan dilakukan dengan memotong sapi atau kerbau, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada khalayak ramai. Masyarakat Aceh menyebutnya tradisi meugang.

Salah satu anggota Majelis Adat Aceh Badruzzaman mengatakan, saat meugang berlangsung, seluruh orang Aceh harus menikmati daging. “Jadi, jangan heran, menjelang puasa, harga daging di Aceh sangat mahal dan penjualnya tumpah sampai ke jalan-jalan,” ujar Badruzzaman.

Meugang dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Orang-orang yang mampu akan memberikan daging kepada kaum dhuafa atau memberi uang untuk dibelikan daging. Menurutnya, setiap rumah akan membuat berbagai masakan dari daging, kemudian dinikmati bersama-sama satu keluarga ataupun dibagi-bagikan ke tetangga.

Makna dari membagi-bagikan daging tersebut, kata Badruzzaman, tak lain untuk mensyukuri rahmat Allah karena masih diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa. Saat meugang, anggota keluarga umumnya berkumpul, bersilaturahmi, dan saling memaafkan. Sementara  keluarga yang jauh merantau pun biasanya akan kembali. “Kalau hari meugang, anak-anak datang mencari orang tuanya, suami-suami yang bertugas jauh dari keluarga pantang tidak ada di rumah,” ujarnya.

Tradisi meugang sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kala itu, sebulan sebelum puasa, Sultan mengumpulkan semua kepala kampung dan imam masjid untuk membuat daftar seluruh orang miskin yang ada di kampung mereka.

Setelah nama-nama orang miskin terkumpul, Sultan lalu memerintahkan bendahara mengirimkan uang ke seluruh kampung untuk dipakai membeli sapi atau kerbau. “Begitulah bentuk tanggung jawab pemerintah kepada rakyatnya waktu itu,” kata Badruzzaman.

Tradisi yang dilaksanakan Sultan Iskandar Muda tersebut hingga kini terus dipelihara masyarakat Aceh dan menjadi solidaritas sosial yang muncul setiap kali Ramadhan menjelang.

Saat hari meugang yang berlangsung selama tiga hari, Aceh betul-betul ramai. Kegembiraan masyarakat terpancar di mana-mana, pegawai-pegawai kantoran pun biasa terlihat di pasar-pasar meski tidak berbelanja daging. “Banyak warga yang ingin menikmati keramaian dan antusiasme orang-orang dalam menghayati suasana menjelang masuknya bulan suci Ramadhan. Mereka juga bermaaf-maafan,” kata Badruzzaman.

Tradisi Marpingir Batak Mandailing di Siporok

siporok-Tapanuli Selatan

Marpingir adalah mandi keramas sebagai simbol membersihkan diri lahir dan batin, sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan. Yang digunakan untuk keramas adalah  ramuan-ramuan khusus yang terdiri dari unte pangir (sejenis jeruk sate) daun pandan, daun tapak leman dan bunga-bunga yang harum; kemudian dicampur jadi satu dan dimasak dengan santan. Tempat memasaknya adalah belanga (angkola-sipirok) atau di dalam bambu/bulu (mandailing).

Setelah ramuan dimasak dan didinginkan, kita lalu mandi di batang aek (sungai/hulu sungai), setelah rambut basah, lalu disiram dengan ramuan  pangir tadi ke kepala, lalu di gosok-gosok.  Setelah itu rambut dibilas dan cuci bersih.

Acara Marpingir biasanya dilakukan bersamaan dengan acara piknik keluarga atau piknik dengan teman-teman sebaya. Acara piknik tadi biasanya dilakukan di topi (tepi) batang aek.

Malam 27 Ramadhan

Malam 27 ramadhan di Siporok (Tapanuli selatan) biasa berjalan sangat seru karena ada acara pasang lilin/obor di setiap rumah/pagar rumah. Suasana malam akan kelihatan indah dengan jejeran obor/lilin di sepanjang jalan, sementara suara tadarusan (membaca al qur’an) terdengar sayup-sayup dari masjid.

Tradisi Petang Megang dan Puasa Enam di Riau

Petang Megang (Balimau Kasai) 

Petang Megang

Balimau kasai  bagi masyarakat Riau mempunyai makna yang mendalam yaitu bersuci sehari sebelum Ramadhan. Biasanya dilakukan ketika petang sebelum ramadhan berlangsung. Tua muda turun ke sungai dan mandi bersama.

Balimau artinya membasuh diri dengan ramuan rebusan limau purut atau limau nipis. Sedangkan Kasai artinya (dalam bahasa melayu) lulur. Bahan alami untuk lulur biasanya beras, kunyit, daun pandan, dan bunga-bungaan yang membuat tubuh menjadi harum.

Tradisi ini berlangsung sejak turun temurun di kalangan Melayu Riau. Balimau Kasai adalah istilah yang digunakan oleh  masyarakat Kabupaten Kampar dan Kuantan Singingi, di Pekanbaru tradisi ini dikenal sebagai Petang Megang.

“Balimau Kasai artinya mensucikan diri baik lahir maupun batin, sebelum datangnya Ramadhan.”Ujar salah seorang tokoh masyarakat Muara Lembu, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Bagi masyarakat Melayu, kegiatan Balimau Kasai merupakan ritual wajib yang harus dilakukan. Selain mandi di sungai dengan limau yang dianggap sebagai penyucian fisik, ajang ini juga dijadikan sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan sesama muslim dengan saling memaafkan. Biasanya dalam setiap kunjungan akan ada makanan yang dibawa seperti lemang, lepat, kue, rendang dan sup daging. Makanan ini, nantinya akan dijadikan santapan pada sahur pertama di bulan Ramadhan.

Tak jarang, sebelum acara dilakukan, diadakan ziarah ke makam-makam para tokoh pendiri Kota Pekanbaru di pemakaman Senapelan, ke makam tokoh agama almarhum Buya Abdullah Hasan, dan makam almarhum budayawan Riau H Edi Ruslan P Amanriza, dan beberapa makam tokoh pendiri Riau lainya.

Puasa Enam

Masyarakat kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), riau, merayakan tradisi Puasa Enam yang biasanya digelar pada sepekan idul Fitri. Perayaan Puasa Enam biasanya dilaksanakan masyarakat Kenegerian Koto Tuo Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, dalam suatu acara kenduri kampung seperti yang dilakukan ramadhan tahun lalu. 

Perayaan Puasa enam dipusatkan di rmah Godang (Balai Adat) Kenegerian Koto Tua Baserah. Masyarakat berduyun-duyun datang ke lokasi perayaan sambil masing-masing membawa juadah (makanan untuk bekal) untuk dimakan secara bersama di balai adat.

“Tradisi budaya yang dimiliki Kuantan Singingi sekarang ini memang beragam, akan tetapi sangat sedikit yang muncul ke permukaan, sebagaimana dengan perayaan Hari Raya enam yang dilaksanakan oleh Kenegerian Koto Tuo Baserah,” ujar Bupati Sukarmis.

Perayaan puasa enam dilaksanakan seminggu setelah hari raya Idul Fitri.  Masyarakat berpuasa selama enam hari yang dimulai pada hari ketiga idul fitri dan setelah enam hari berpuasa di bulan syawal, biasanya mereka merayakannya dengan menggelar makan bersama di Rumah Godang yang dihadiri Ninik Mamak serta anak kemanakan dan masyarakat sekampung.

Tradisi merayakan puasa enam tidak datang begitu saja, tetapi telah ada secara turun temurun. Perihal kesukuan yang ada di  Kenegerian Koto Tuo terdapat empat suku, suku Cemin, Suku Tigo Kampung dan suku Limo Kampung.

Tradisi Tetabuhan dan Ziarah Kubro di Palembang

Tetabuhan

Masyarakat di Sumatera Selatan, termasuk di Kota Palembang, punya tradisi di bulan Ramadhan, yakni membunyikan beragam alat tetabuhan sambil berkeliling ke kampung sampai ke lorong-lorong pemukiman penduduk. Tradisi ini berlangsung mulai jam 02.00 WIB dan bertujuan membangunkan mereka, terutama kaum ibu rumah tangga yang akan menyiapkan masakan sahur bagi anggota keluarganya.

Dengan membawa tetabuhan, seperti Lebana dan peralatan dapur lainnya, para remaja di lingkungan Kelurahan 36 Ilir, Tangga Buntung, Palembang, Sumatera Selatan, dengan sangat antusias melakukan tradisi bangun sahur.

Mereka berkeliling kampung, menabuh tetabuhan seperti lebana, dan sejumlah peralatan dapur dan sambil sesekali membacakan sejumlah Shalawal Nabi untuk membangunkan para warga yang akan melaksanakan ibadah puasa.

Tradisi yang dimulai sejak jam 02.00 WIB dinihari, biasanya hampir dilakukan para remaja di seluruh gang dan lorong-lorong di sejumlah kampung di Palembang. Mereka bergembira melakukan
hal tersebut, sebagai simbol datangnya bulan suci Ramadhan yang telah lama mereka tunggu.

Para warga yang sempat terbangun juga merasa senang, karena mereka akan segera memasak berbagai makanan untuk disajikan sewaktu sahur. Setelah acara ini dilakukan para remaja dan anak-anak ini biasanya akan langsung pergi ke Masjid untuk mengerjakan sholat subuh dan mendengarkan ceramah agama.

Tradisi Ziarah Kubro

ziarah kubro

Tradisi Ziarah Kubro adalah tradisi ziarah yang biasa dilakukan oleh para ulama Gan Auliyah di kota Palembang yang diikuti oleh sebagian besar umat muslim di kota tersebut. Tradisi ini dilakukan saat menjelang Ramadhan. Namun yang unik, ulama dari seluruh Indonesia bahkan dari mancanegara (Madinah, Yaman, Singapore, Malaysia) ikut bergabung dalam tradisi ini. Hal tersebut dikatakan Habib Muhammad Bin Ali Segaf, salah satu ulama di kota Palembang pada saat melakukan ziarah kubro ke pemakaman Imam dan Arif Billah Naga Swidak 14 Ulu Palembang. Menurut Habib ziarah ini dilakukan untuk mengenang dan menghormati para ulama yang telah melakukan syiar islam di kota Palembang dan ditauladani oleh semua umat Islam.

Kegiatan ziarah kubra menjelang bulan suci Ramadgan 1432 Hijriyah ini dilaksanakan selama tiga hari, dimulai dari hari jumat kemarin di quba 8 ilir Palembang, hari Sabtu di quba 14 ulu Palembang serta hari Minggu dari kampung sungai Bayas sampai makam Kawah Tengkurep Palembang.

(berbagai sumber) ~ bersambung

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 5, 2011 in Religi

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: