RSS

Berbagai Tradisi Di Indonesia Seputar Puasa dan Lebaran (3)

28 Agu

Tradisi Ramadhan Kalimantan Selatan

Salah satu tradisi masyarakat Kalimantan Selatan adalah perayaan malam salikuran—malam kedua puluh satu—yang berlangsung hingga akhir Ramadhan.

Masyarakat Banjar punya kegiatan yang khas pada malam salikuran, yakni bagarakan (berkarnaval atau pawai) di jalan-jalan utama di daerah mereka masing-masing. Pada masa lalu, kegiatan ini bahkan dilakukan dengan cara keliling dari kampung ke kampung.

Kini, acara salikuran juga jadi agenda wisata. Yang terbesar berlangsung di Lapangan Murdjani yang terletak di depan Kantor Wali Kota Banjarbaru.

tanglong

Dalam karnaval ada dua kegiatan yang paling menonjol, yakni tradisi bagarakan tanglong (karnaval lampion) berukuran besar dan bagarakan sahur (membangunkan warga untuk sahur). Di Banjarbaru, karnaval itu sudah dilombakan dalam enam tahun terakhir.

Bertabur warna

Tidak seperti biasa, malam itu Lapangan Murdjani bertabur cahaya. Atmosfer itu dibangun oleh puluhan tanglong yang memendarkan pijar api minyak tanah aneka warna.

Lampion-lampion berukuran besar itu juga beragam bentuknya. Ada yang berbentuk masjid, bentuk pria yang tengah duduk membaca Al Quran, atau unta dan pohon kurma.

Namun, ada juga yang berkreasi dengan tidak merujuk pada simbol peribadatan. Ada lampion berbentuk pohon angker, hantu pocong, dan ada juga lampion tokoh kartun idola anak-anak, Spongebob.

Kegiatan ini memang bukan kelas kampung lagi. Tradisi warga Banjar tersebut diikuti 86 peserta dari berbagai kelompok remaja, kampung, atau kecamatan se-Kalimantan Selatan.

Selain beraksi di Lapangan Murdjani, para peserta juga berpawai di sepanjang jalan sejauh lebih dari 10 kilometer hingga Bundaran Tugu Intan di perbatasan Martapura. Pawai berlangsung lebih dari tiga jam. Ribuan warga pun memadati tepian jalan, setia menunggu arak-arakan.

Seperti di Banjarbaru, kedua tradisi itu juga berlangsung di kabupaten lainnya, seperti di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Selatan. Bahkan, Kandangan, ibu kota Hulu Sungai Selatan, memiliki tradisi bagarakan dengan mengarak sepasang naga, bagarak naga laki dan naga bini.

Tradisi ini berawal dari legenda sepasang naga yang oleh sebagian warga Kalimantan Selatan dipercaya punya kaitan dengan keutuhan dan keharmonisan keluarga. Untuk mengingat kembali legenda itu, bagarakan sepasang naga ini ditampilkan setiap malam salikuran.

Kertas bekas

Tanglong biasanya dibuat dari kertas bekas atau kertas minyak berwarna. Di suatu kampung, pembuatannya biasanya dilakukan beramai-ramai oleh warga.

Satu tanglong memerlukan biaya Rp 500.000 hingga Rp 3 juta. “Kami bisa membuat tanglong berbeda-beda setiap tahun karena terus didukung warga,” kata Anto, pembuat tanglong tadarusan Al Quran dari Kelompok Remaja Muslim Intan Amaco, Banjarbaru.

Tanglong diperkirakan bukan produk asli budaya Banjar. Dia diserap dari bentuk atau model lampu hias bangsa atau suku lain, seperti dari masyarakat China. Bagi masyarakat Banjar, tanglong semata-mata merupakan aksesori beranda dan halaman rumah.

Biasanya di halaman juga diletakkan barisan lampu suluh selama bulan Ramadhan, yang membuat kampung-kampung warga Banjar menjadi semarak.

“Tadinya warga lebih mengenal kegiatan memasang lampu damar atau badadamaran di depan rumah mereka. Kegiatan itu kemudian berubah menjadi pemasangan lampu-lampu tanglong berbahan bakar minyak tanah,” kata M Syafri Kadir, budayawan Banjar, di Banjarbaru.

Setelah jaringan listrik dan kemudian televisi menyebar ke kampung-kampung, kebiasaan itu banyak ditinggalkan. Warga tidak lagi perlu dibangunkan karena mereka banyak yang menonton televisi hingga jadwal makan sahur tiba.

Tanglong dan bagarakan sahur kembali menemukan “rohnya” setelah dijadikan kegiatan seni dan budaya tahunan yang bernapaskan keagamaan. Kegiatan itu juga jadi ajang silaturahmi sesama warga dan memperkaya wisata budaya Banjar.

Tradisi tanglong ini bukan sekadar keramaian, melainkan sarat dengan pesan moral agama dan kemasyarakatan dalam kreasi-kreasinya. Harapannya tentu bencana kabut asap tidak menjadi “tradisi” tahunan yang menyiksa.

Makanan khas tradisional berupa kue merupakan penganan yang paling diminati pengunjung Pasar Wadai di Kotabaru Kalimantan Selatan untuk berbuka puasa dibandingkan kue yang lainnya.

Seorang pedagang H Sutrisno di Pasar Wadai, Minggu, mengaku, kue bingka adalah satu jenis kue tradisional yang paling diserbu pengunjung pasar pada Ramadhan.

kue bingka

“Kue bingka dengan berbagai jenisnya, tumbuk, apam dan lemang sangat diminati konsumen,” ujarnya. Hampir semua stand yang menjual kue tradisional diserbu pengunjung sejak sore hari. Ia mengaku bisa menjual puluhan porsi kue bingka berukuran besar. Satu porsi kue bingka cukup untuk berbuka puasa 10 orang.  Sutrisno mengaku menjual kue bingka bervariasi, tergantung jenis dan ukuran, mulai dari Rp10.000 ke atas. Selain kue bingka, kue “tumbuk” juga jenis kue yang dicari masyarakat muslim di Kotabaru.

Kue tumbuk salah satu makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan air santan, di cetak dengan bambu sebelum di masak dan dibungkus daun pisang muda menjadi kue istimewa untuk berkuka puasa.

“Kue Tumbuk hanya muncul setiap bulan puasa hingga lebaran Idul Fitri saja, sehingga menjadi hidangan istimewa bagi masyarakat di sini,” kata warga Kotabaru Syahrudin pada suatu kesempatan.

Menurutnya, kue tumbuk sebenarnya bukanlah makanan khas masyarakat Kotabaru, melainkan jenis makanan khas Suku Mandar, di Sulawesi Selatan.

Tetapi karena hampir 30 persen masyarakat Kotabaru berasal dari Sulawesi, sehingga makanan khas tersebut tidak dapat dilupakan bagi masyarakat Mandar di perantauan, dan ternyata menu itu sesuai selera masyarakat di Kotabaru.

“Bagi masyarakat Mandar, kue tumbuk hanya diolah saat hari raya saja, selain membuatnya sangat sulit, kue tersebut memiliki nilai sejarah yang tidak dapat dilupakan bagi mereka yang merantau meninggalkan kampung halamannya,” ujarnya.

Husaini, warga Pulau Laut Utara, mengaku setiap diundang tetangganya selalu mengincar kue tumbuk, dan mengabaikan kue yang lainnya.

“Setiap tahun kami hanya menunggu-nunggu hidangan kue tumbuk,” kata Husaini di kesempatan berbeda.

Makanan ini tidak boleh ketinggalan untuk dihidangkan kepada tamu, kalau yang tidak ada itu nggak apa-apa tapi kalau ini jangan sampai tidak dihidangkan,” tambahnya.

Kue tumbuk yang dibuat berbentuk bulat tebalnya sekitar dua centimeter dengan diameter tiga setengah centimeter, biasanya dihidangkan bersama sambal kacang, bumbu opor ayam/daging, atau dengan sambal hati ayam/sapi dan kambing.

Dalam satu piring biasanya hanya diberi satu sampai dua kue tumbuk, dan di sisinya di beri aneka sambal, sesuai selera yang akan menyantapnya.

Biasanya kue tumbuk dijual dengan harga bervariasi, untuk ukuran kecil Rp1.000 per biji, tetapi untuk ukuran besar dengan tebal sekitar 10 cm lebar 6 cm dijual sekitar Rp15.000-Rp25.000 per batang

Perang Meriam Karbit, tradisi unik masyarakat Kapuas menyambut lebaran

meriam karbit

Masyarakat Kapuas memiliki tradisi unik dalam menyambut lebaran, yaitu perang Meriam Karbit. Ternyata dibalik tradisi tersebut terselubung sebuah cerita sejarah yang  sangat menarik,karena tradisi ini juga berkaitan dengan nama Pontianak yang dalam bahasa melayu berarti Kuntil anak…..hiy…. ceritanya ginih:

Pontianak adalah kesultanan terakhir yang berdiri di Kalimantan Barat pada abad ke-17. Didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang sekaligus merupakan Sultan pertama di Kesultanan Pontianak ketika itu. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri adalah putera seorang ulama terkenal di Kalimantan Barat yang bernama Habib Husain. Habib Husain ini berasal dari Negeri Hadhralmaut-Yaman Selatan.

Berdasarkan silsilahnya, Habib Husain ini merupakan keturunan Nabi Muhammad. Ketika di Kalimantan Barat, Habib Husain sempat menjadi ulama yang menyebarkan ilmu keislamannya di Kesultanan Matan dan Kesultanan Mempawah. Syarif Abdurrahman sendiri adalah putera dari perkawinannya dengan perempuan di Kesultanan Matan.

Dalam Bahasa Melayu, Pontianak artinya hantu kuntilanak. Penamaan ini sesuai dengan sejarah ketika berdirinya kota pesisir sungai ini dua abad yang silam. Konon ketika itu, pendiri kota ini yaitu Syarif Abdurrahman Al-Qadri, bersama-sama dengan rombongannya  sampai di kawasan Batulayang yang berada di wilayah utara Pontianak setelah melakukan perjalanan dari Mempawah untuk mencari daerah baru yang akan dijadikan kesultanan.

Ketika sampai di Batulayang inilah, rombongan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal tiba-tiba mendapat gangguan dari makhluk halus sejenis hantu kuntilanak. Berdasarkan petunjuk yang didapat, Syarif Abdurrahman Al-Qadri kemudian memerintahkan kepada rombongannya untuk bermalam di Batulayang, karena daerah yang akan dituju sudah semakin dekat. Syarif Abdurrahman juga memerintahkan kepada rombongannya untuk menembakkan meriam, yang selain untuk mengusir gangguan hantu kuntilanak, juga sebagai penanda, bahwa di mana peluru meriam itu jatuh, maka di tempat itulah nantinya akan dibangun kesultanan.

Simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak adalah tempat jatuhnya peluru meriam yang ditembakkan tersebut. Kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Kampung Beting yang termasuk di dalam wilayah Kelurahan Dalam Bugis; Kecamatan Pontianak Timur. Di kawasan inilah untuk pertama kalinya didirikan bangunan berupa masjid  yang ketika itu masih hutan belantara.

Masjid yang merupakan bangunan pertama di kota ini kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Tak jauh dari Masjid Jami’ kemudian didirikan Istana Qadriah sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak ketika itu. Hingga kini, kedua bangunan bersejarah di Kota Pontianak tersebut masih tetap kokoh berdiri.

Berkaitan dengan sejarah masa lalunya, menembakkan meriam menjadi tradisi tersendiri di Kota Pontianak ketika akan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta ketika memperingati Hari Jadi Kota Pontianak. Tak jarang pula meriam dibunyikan ketika event-event budaya seperti Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) yang setiap tahun rutin dilaksanakan oleh pemerintahan daerah setempat.

Bedanya, meriam yang menjadi tradisi masyarakat Kota Pontianak ini bukanlah terbuat dari besi dan berisikan mesiu, melainkan hanya meriam yang terbuat dari kayu log yang cukup panjang dan berdiameter agak besar (panjangnya 5 – 8 meter, dengan diameter 30 – 100 centimeter) dan berisikan karbit 3 – 5 ons sebagai pengganti mesiu yang kemudian disulut dengan api. Suara meriam karbit ini bisa menggelegar hingga mencapai radius 10 kilometer.

Selain tradisi meriam karbit, di Kota Pontianak hingga kini juga terus hidup tradisi-tradisi lainnya berupa kesenian daerah dengan corak budaya Melayunya yang begitu kental, seperti Zikir Hadrah, Tari Zapin, Pantun, Syair, dan Tanjidor, serta tradisi Melayu pada upacara kelahiran, khitanan, khataman Al-Qur’an, pertunangan, pernikahan, dan kematian. Selain budaya dan tradisi Melayu, di Pontianak juga hidup dan berkembang budaya dan tradisi Tionghoa, seperti Barongsai, Cap Go Meh, dan Atraksi Naga. Selain itu, Kota Pontianak hingga kini juga masih memiliki tempat-tempat bersejarah, seperti Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrarahman, Istana Qadriah, dan Makam Keluarga Kesultanan Pontianak (dikenal dengan sebutan Makam Batulayang), Taman Alun-alun Kapuas, Kawasan Kampung Beting, Museum Negeri, Duplikat Rumah Adat, Taman Agrowisata, Jembatan Kapuas, dan Jembatan Landak, serta Tugu Khatulistiwa yang merupakan ikon Kota Pontianak yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

~~

Lombok

Tradisi Bebersinan atau yang biasa di sebut Penampahan menjadi kemeriahan tersediri bagi masyarakat pulau Lombok dalam mengawali bulan suci Ramadhan. Selain itu, ada juga masyarakat yang melakukan tradisi ziarah kubur ke makam – makam para alim dan ulama besar. Selanjutnya, umat islam di pulau Lombok menggelar tradisi salam–salaman atau bermaaf–maafan dengan keluarga, kerabat dan tetangga masing–masing. Tradisi semacam itu memang dilakukan setiap muslim yang ada di Indonesia, termasuk NTB dengan nama yang berbeda-beda.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hikmah Desa Langko Kecamatan Lingsar Lombok Barat (Lobar), TGH. Azhar Rosyidi, mengatakan, penampahan atau bebersinan merupakan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat muslim di pulau Lombok sejak nenek moyang terdahulu. Tradisi ini dilaksanakan satu hari sebelum dilaksanakannya Ibadah Puasa dan satu hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Penampahan dalam bahasa sasak dapat diartikan pemotongan hewan seperti sapi dan kambing untuk kebutuhan memasuki bulan ramadhan.

Lebih jauh Azhar menambahkan, penampahan merupakan bentuk pengorbanan masyarakat untuk bebersinan, yang berarti membersihkan diri dari dosa dalam memasuki bulan Ramadhan. Bagi umat muslim yang melakukan itu, maka akan bisa menjalankan ibadah puasa sudah dalam keadaan bersih. Setelah tradisi Penampahan, dilanjutkan dengan tradisi roah atau zikiran bersama di Masjid, Musholla, bahkan rumah masing – masing warga dengan mengundang tokoh agama (Toga) dan warga lainnya. Acara roah itu biasanya dilakukan pada malam pertama memasuki bulan Ramadhan.

Tradisi Lebaran Topat Suku Sasak

Masyarakat muslim suku Sasak yang mendiami Lombok dan sekitarnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) punya tradisi lebaran yang disebut lebaran topat yang digelar seminggu setelah Idul Fitri.

Tradisi budaya ini diisi dengan serangkaian acara seperi ajang silaturahmi, syukuran (kendurian) di masing-masing rumah, mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid di masjid maupun surau dengan iringan beduk. Dilanjutkan berziarah ke makam alim ulama ataupun tokoh-tokoh agama yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di Lombok seperti ke makam Loang Baloq dan makam Batu Layar di Senggigi, Lombok Barat. Ada juga yang ke makam keramat di Lembar dan makam Ketak di Lombok Tengah seraya melaksanakan bermacam kaul seperti memotong rambut atau ngurisan.

perang topat

Di Pura Lingsar, Lombok Barat kerap diadakan perang topat yakni acara saling lempar ketupat yang dilakukan oleh para petani dan masyarakat yang tinggal di sekitar Pura pada sore hari. Mereka berkeyakinan dengan mengadakan acara tersebut, segala doa akan dikabulkan Tuhan YME.

Usai melakukan syukuran dan ziarah, masyarakat Lombok berduyun-duyun menuju pantai yang membentang sepanjang lebih kurang 95 Km, mulai dari Pelabuhan Lembar sampai ke Lombok Utara. Mereka berjalan beriringan sambil membawa aneka masakan ketupat berserta penganan.

Tradisi lebaran topat ini kerap dimeriahkan dengan bermacam kegiatan seni bernafaskan Islam seperti ceramah keagamaan, lomba kasidahan, zikir, dan lomba beduk sampai atraksi dayung dan berselancar.

Tak jarang pemerintah setempat atau tokoh agama memanfaatkan acara ini untuk memberi penyuluhan tentang masalah sosial, kelestarian alam, dan lainnya yang disisipkan dalam ceramah.

Tradisi Ramadhan Sulawesi Barat

Salah satu tradisi menjelang bulan Ramadhan di Sulawesi Barat adalah berziarah ke makam Syekh Abdul Mannan, yang terletak di lingkungan Salabose, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Majene.

Syekh Abdul Mannan merupakan ulama penyebar Islam di Sulawesi Barat (Sulbar). Peziarah tidak hanya datang dari Majene dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Sulbar, seperti Polewali, Mamuju, bahkan warga Sulbar yang merantau ke luar daerah.

Makam Syekh Abdul Mannan diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Kompleks makamnya berdiri di wilayah perbukitan dengan luas hampir mencapai 1 hektar.

Gaus, salah seorang juru kunci makam yang juga masih keturunan Syekh Abdul Mannan, mengatakan bahwa animo umat Muslim untuk menziarahi makam ini sangat besar, terutama menjelang bulan Ramadhan.

Tradisi mudik, atau pulang kampung menjelang Ramadhan untuk melakukan ibadah puasa pertama dengan keluarga, ternyata juga biasa dilakukan masyarakat Sulawesi Barat dan menjadi tradisi turun temurun.  Di Polewali Mandar, yang bermukim berbagai macam suku, yakni etnis, Bugis, Toraja, Makassar,dan Mandar dan banyak lagi daerah lainnya, menjelang satu Ramadhan mereka rata-rata pulang ke kampung masing-masing.

Di Kabupaten Polman, Kabupaten Majene, dan Ibu Kota Provinsi Mamuju, sebagian pejabat pulang kampung. Begitu juga dengan para pegawai dari daerah lain juga pulang kampung menjelang awal ramadhan.

“Sejumlah pegawai dan bahkan para pedagang yang rata-rata dari tanah bugis menyempatkan diri untuk pulang kampung sembari melepas kerinduan bersama keluarga memasuki puasa pertama (makkatanni puasa),” kata Najemiah asal Pallanro, Kabupaten Barru. Pendatang dari kampung Bugis itu mengatakan bahwa orang tuanya yang berada di kampung mengharap kehadirannya untuk melaksanakan puasa pertama.

Mereka pulang kampung biasanya selama tiga hari sebelum kembali melakukan berbagai aktivitas mereka. Dan ketika Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi, mereka akan bersiap-siap lagi  untuk mudik lebaran bersama para keluarganya.

Tradisi Suro’baca Masyarakat Makassar

Lain Majene, lain juga dengan Makassar. Di makassar, tradisi jelang Ramadhan yang terkenal adalah Suro’baca. Tradisi itu merupakan tradisi turun-temurun di kalangan suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan (Sulsel). Acara ritualnya biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sampai dengan H-1 menjelang bulan Ramadhan.

Tradisi yang masih tetap terjaga baik di kalangan masyarakat pedesaan hingga perkotaan ini biasanya diselenggarakan baik per rumah tangga ataupun berkelompok.

Aneka hidangan atau masakan disediakan dalam ritual ini seperti ayam gagape’ (mirip opor ayam), ikan bandeng bakar yang dibelah dan diberi cabe dan garam yang sudah dihaluskan, lawa’ (urap) dari pisang batu, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan ekonomi si empunya hajatan. Untuk kue pencuci mulutnya, dipilih kue-kue tradisional misalnya kue lapis, onde-onde, dan cucuru’ bayao.

Untuk membaca doa bersama, dipimpin oleh seorang guru baca atau tokoh adat. Seluruh anggota keluarga akan duduk bersila di depan aneka hidangan sambil mengikuti guru baca berdoa dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an serta mendoakan bagi almarhum (leluhur) agar mendapat keselamatan di akhirat dan keluarga yang ditinggalkan juga mendapatkan keselamatan, kesehatan dan dimudahkan rezekinya.

Prosesi serupa juga dilakukan jika suro’baca dilakukan berkelompok, artinya satu orang sebagai koordinator yang mengumpulkan pendanaan komsumsi, kemudian bersama-sama dengan anggota keluarga besar membuat aneka hidangan yang akan disajikan pada acara suro’baca pada bulan Sya’ban itu. Setelah semuanya siap, maka semua anggota keluarga besar berdoa bersama dipimpin guru baca. Selanjutnya, bersalam-salaman seraya saling memaafkan sebelum memasuki bulan Ramadhan dan bersantap bersama.

Anggaran untuk konsumsi sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan dan tidak ditentukan besarannya. Bahkan yang tidak memiliki uang lebih, namun memiliki ternak ayam, biasanya menyumbang beberapa ekor ayam saja. Begitu pula yang berprofesi sebagai petani biasanya memberikan beberapa liter beras untuk berpartisipasi.

Selain Suro’ baca, juga dilakukan ritual ziarah kubur menjelang Ramadhan, tradisi ini juga sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat Sulsel yang masih kental dengan kultur kekeluargaannya. Seminggu menjelang bulan suci Ramadhan, setiap lokasi pemakaman dipadati oleh orang-orang yang ingin berziarah di makam keluarganya.

Tradisi itulah yang masih dapat dijumpai di kalangan keluarga Bugis Makassar di Sulsel. Suatu tradisi yang memiliki makna yang mendalam yang intinya memupuk rasa kebersamaan, mengingat kematian dan mengajak semua manusia untuk berbuat kebajikan.

Tradisi Binarundak Sulawesi Utara

Bagi warga Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, lebaran selalu identik dengan tradisi Binarundak atau tradisi makan jaha secara massal. Tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun ini, ternyata menjadi motivasi tersendiri bagi para perantau yang mudik pada saat lebaran. Dalam melaksanakan binarundak, para perantau tersebut biasanya berkumpul bersama ratusan perantau lainnya.

Nasi jaha adalah salah satu makanan khas Sulawesi Utara, berbahan dasar beras ketan dan santan, yang dimasak dengan cara dipanggang, setelah sebelumnya diisi kedalam batang bambu berlapis daun pisang.

Dalam tradisi yang digelar beberapa hari sebelum Idul Fitri ini, warga membakar nasi jaha di sepanjang jalan depan rumah mereka atau di lapangan terbuka.

Kegiatan ini pun menjadi ajang silaturahmi dan ajang reuni bagi para perantau dengan sahabat lama, setelah sekian lama berpisah.

Tradisi Binarundak adalah tradisi yang sengaja dibuat warga yang pulang mudik dari rantau seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan ataupun dari beberapa daerah lainnya di Sulawesi dan Maluku.

Selain jadi puncak perayaan Idul Fitri, tradisi ini juga merupakan ajang bermaaf-maafan sebelum pemudik kembali ke tanah perantauan.

Di puncak acara, nasi jaha yang sudah matang kemudian dinikmati beramai-ramai bersama warga lainnya dengan diiringi tabuhan musik rebana serta alunan syair-syair pujian serta doa syukur.

Selain tradisi Binarundak ini, warga muslim di Sulawesi Utara juga menjalankan sebuah tradisi yang disebut Lebaran Ketupat, yang selalu dilaksanakan pada tanggal 7 Syawal atau di hari ketujuh setelah Idul Fitri.

(berbagai sumber)

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Agustus 28, 2011 in Religi

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: