RSS

Wisata Gombong

28 Des

Gombong adalah sebuah kecamatan yang masuk wilayah Kebumen, yang terletak di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kebumen sendiri merupakan sebuah Kabupaten. Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I.  Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram (zaman Sultan Agung) ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer.

Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi, besar artinya bagi prajurit Mataram.

Sebagai bentuk penghargaan dari Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.

Kebumen di Barat berbatasan dengan kabupaten Banyumas dan Cilacap. Di Timur berbatasan dengan kabupaten Wonosobo dan Purworejo. Di Utara berbatasan dengan  Kabupaten Banjarnegara, sementara di Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.

Gombong, yang merupakan bagian dari wilayah Kebumen berada di selatan Kebumen.

Gombong merupakan suatu daerah yang terdiri dari pegunungan kapur, yang membujur hingga pantai selatan, dimana terdapat banyak gua dengan stalaktit dan stalagmit di dalamnya.

Gombong Yang Sejuk

Menginjakkan kaki pertama kali di kota ini, gimana ya, rasanya seru banget, asik banget. Dan seperti kebanyakan masyarakat di daerah pedesaan, penduduk Gombong pun sangat bersahabat. Keramahan penduduk di sana terasa kental saat kamu berinteraksi dengan mereka. 

Ketika turun dari kereta api di stasiun Gombong, suasana sejuk kota itu mulai terasa. Gue lebih senang naik ojek atau naik becak-motor untuk mencapai rumah kakak (di desa Gumawang Kuwarasan), karena suasana segarnya benar-benar terasa. Untuk sampai ke Desa Gumawang, Kuwarasan, kamu harus menempuh perjalanan paling tidak 30 menit naik motor/mobil. Jalan yang dilaluipun asik banget karena di kiri kanan jalan, terbentang sawah yang luas, bener-bener view yang meneduhkan.

O, ya bagi kamu yang ingin tahu kereta api apa aja yang melewati Gombong, baiknya gue kasih tau aja daripada kamu nyasar, hehe. Dari stasiun Senen, kamu bisa naik kereta Sawunggalih Utama jurusan Senen – Kutoarjo. Kereta ini berhenti di Gombong, tapi berhentinya sebentar sehingga kamu harus sudah bersiap-siap di pintu kereta saat memasuki stasiun Gombong agar tidak terbawa sampe stasiun berikut (tapi kalo kebawa juga nggak apa-apa, balik aja lagi, lol). Kalo kamu berangkat pagi jam 7-8an, biasanya nyampe jam 4-5an sore.

Mau naik kereta ekonomi aja? tentu bisa juga. Kereta ekonomi dari Jakarta biasanya berangkat dari stasiun Tanah Abang, waktu tempuh kurang lebih hampir bersamaan dengan kereta bisnis, namun berangkat lebih pagi yaitu sekitar pukul setengah tujuh pagi.

Untuk kereta AC kamu bisa naik dari Gambir, yaitu kereta Taksaka jurusan Jogja. Di Gambir kamu udah harus siap dibawah jam 9 pagi (waktu tepatnya gue lupa), nah kereta Taksaka ini berhenti di Gombong tapi nggak terlalu lama.

Dari stasiun Bandung, kamu bisa naik kereta Lodaya (bisnis) jurusan Solo Balapan. Ada dua kereta yang bisa kamu naiki yaitu pada pagi hari pukul delapan pagi (sampai di Gombong jam 2an siang), atau pada pukul 8 malam (sampai di gombong jam 2an malam). Sementara untuk kereta ekonomi dari Bandung menuju Gombong, kamu bisa naik dari stasiun Kiaracondong. Berangkat jam 8 malam, kamu bisa sampai Gombong jam lima subuh.

Yah, begitulah, sebagai orang yang biasa menggunakan jasa kereta api, jadi hafal rute dan jamnya hehe. Bicara soal kereta api ke Gombong, gue suka banget kalo naiknya dari Bandung, kenafa?  karena pemandangan yang bakal didapet, indah gila. Di sekitar Garut, ketika kereta memasuki wilayah pegunungan, pemandangan yang bisa kamu liat indah banget, secara kereta berada di sisi luar pegunungan dan seolah-olah berada di atas lembah, karena kereta yang kau naiki merayap di sisi gunung (nyaris melingkari gunung), sementara pemukiman penduduk terbentang luas di bawahmu, benar-benar view yang cool.

Back to Gombong, Gombong hanyalah sebuah wilayah yang kecil saja, luas wilayahnya  kurang lebih 19,48 KM2. Setidaknya ada 14 desa yang masuk kecamatan Gombong.

Mayoritas pekerjaan penduduk di sana adalah bertani, walau banyak juga yang mencari nafkah dengan cara  home industry yaitu memproduksi makanan khas daerah berupa lanting atau pisang sale. Sementara untuk camilan, tempe mendoan juga banyak dijajakan di sana.

Lanting adalah makanan ringan (snack) yang berbahan dasar singkong atau ketela pohon, dimana singkong tersebut diparut, diberi bumbu seperti penyedap rasa, garam, lalu digiling memanjang, dibentuk angka delapan atau bulatan besar, kemudian digoreng.

Pada awalnya, lanting dijual dengan rasa standar, tidak ada inovasi rasa apapun, tapi seiring berjalannya waktu, lanting bisa dinikmati dalam berbagai rasa seperti jagung bakar, keju, barbeque, pedas manis, rasa daging sapi, rasa bawang, dll.

Yang menarik dari bisnis lanting di Gombong adalah, proses pembentukan lanting biasanya dilakukan secara alami (memakai tangan) bukan mesin, dan banyak home industry disana yang meminta bantuan penduduk setempat untuk  membentuk lanting mereka (sebelum proses penggorengan) dengan bayaran tertentu. Memang tidak besar sih bayarannya, tapi bagi seorang ibu rumah tangga yang mencari penghasilan tambahan, lumayanlah mengerjakan pekerjaan itu, lagipula tidak terlalu repot mengerjakannya, bisa dilakukan saat mereka punya waktu senggang.

Lanting yang sudah digiling (bentuk memanjang) bisa mereka ambil di pabrik/home industry yang memproduksi lanting, lalu dibentuk angka delapan/bentuk bulat oleh mereka dan dikembalikan ke home industry itu untuk kemudian di goreng, (ya iyalah dikembalikan, masa mau distoplesin, hihihi). 

Untuk satu kilogram lanting biasanya dihargai sekitar sepuluh ribu rupiah, tapi kalau lanting tersebut sudah masuk supermarket-supermarket di kota besar, harganya bisa lebih mahal lagi.

Sebuah home industry, terkadang kewalahan memenuhi pesanan lanting dari berbagai kota di luar Gombong, tak jarang ada yang memproduksi lanting hingga 1,5 ton per minggu untuk memenuhi pesanan dari Jakarta, Bandung dll.

Minuman Khas Legen

Kebumen (termasuk di dalamnya Gombong) dikenal sebagai salah satu kota penghasil gula merah.  Gula merah dibuat dari air sulingan pohon kelapa. Banyaknya pohon kelapa di daerah ini memungkinkan sebagian masyarakat untuk memproduksi gula merah.

Bukan hanya gula merah saja yang diproduksi, masyarakat  juga memanfaatkan air sulingan itu sebagai minuman. Air sulingan itu dinamai legen. Konon zaman dulu, yang namanya tuak juga dibuat dari air sulingan legen ini.

Wisata Gombong

Gombong adalah kota (kawedanan) yang bersahaja, tidak banyak sarana hiburan yang terdapat di sana, jadi kalo mau nyari hiburan seperti Mal jangan ke Gombong, di Jakarta aja udah, heuheu. Tapi jangan menyangka Gombong tidak tersentuh oleh toko swalayan juga loh, ada sih toko semacam itu, tenang aja.

Sentra bisnis di Gombong, berpusat di pasar Wonokriyo, sebuah pasar yang cukup besar yang terletak di jalan raya yang notabene dilalui kendaraan yang hilir mudik menuju Jogja atau kota-kota di sekitar Jogja.

Di pasar ini, semua kebutuhan kamu bisa kamu dapatkan, jadi kamu nggak usah khawatir.

Gombong bisa kamu capai selain naik kereta api yang udah gue ceritain tadi, bisa juga dengan menggunakan bis, travel atau kendaraan pribadi. Atau kamu mau naik motor aja ke sini? boleh, silahkan, tapi kayaknya kamu harus banyak istirahat di jalan biar badan kamu nggak kaku, heuheu.

Menggunakan mobil/bis dari Jakarta jarak yang kamu tempuh kurang lebih 7 hingga 8 jam tergantung keadaan lalu lintas macet atau engga. Kalo dari Bandung, bisa lebih lama karena kamu harus muter-muter dulu lewat Tasik.

Kalo kebetulan kamu nyasar ke Gombong, jangan panik ya, santai aja,  cari aja penginapan/losmen atau apa, yang biasanya banyak terdapat di pinggir jalan, terus kamu nginap di sana, terus browsing di internet kira-kira tempat wisata apa yang asik dikunjungi.

Bicara soal tempat wisata, ada beberapa tempat menarik yang bisa kamu datangi di Gombong, di antaranya adalah :

1. Bendungan Sempor

Bendungan Serbaguna Sempor terletak di Sungai Cincingguling/Sungai Sempor, desa Sempor, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen kira-kira 7 km sebelah utara kota Gombong.

Bendungan Serbaguna Sempor dibangun untuk  dapat memberikan manfaat bagi penduduk sekitar antara lain terpenuhinya kebutuhan air untuk irigasi, air baku/air minum, kebutuhan air pertanian, tambak, industri dll.

Sungai Cincingguling/Sungai Sempor mengalir dari utara di kaki Gunung Serayu Selatan dan bermuara di samudra Indonesia. Secara geografis area bagian utara dan timur merupakan perbukitan, bagian tengah adalah daratan rendah dengan tofografi rata-rata datar yang merupakan persawahan dan pemukiman penduduk. Sebelah selatan adalah bukit Karangbolong.

Tipe iklim di wilayah Sempor termasuk tipe sedang dengan curah hujan tertinggi
4492 mm/tahun dan Rata-rata tahunan adalah 3495 mm/tahun.

2. Benteng Van Der Wijck

Benteng Van Der Wijck adalah benteng pertahanan Hindia – Belanda yang dibangun pada abad 19. Benteng kuno dengan dominasi warna merah ini cukup menyolok diantara bangunan lain, namun tersamar dari jalan utama mengingat gerbang masuk lokasi wisata ini cukup jauh dari pintu gerbang benteng. Disediakan kereta api mini yang siap mengantarkan pengunjung dari gerbang utama mengelilingi objek wisata bersejarah ini.

Beberapa sarana permainan anak-anak dibangun disekitar benteng seperti perahu angsa dan kincir putar. Tak ketinggalan juga sebuah patung dinosaurus raksasa ikut dibangun untuk meramaikan suasana dan lebih mengakrabkan dengan dunia anak-anak. Bahkan sebuah stasiun kereta api mini dibangun dibagian atas benteng tepat di atas gerbang utama,  memungkinkan pengunjung untuk mengitari sisi atas benteng dengan menggunakan kereta mini.

Di dalam benteng itu sendiri pengunjung bisa melihat beberapa foto dokumentasi seputar bentuk asli bangunan benteng saat ditemukan dan tahap-tahap pemugaran yang telah dilakukan. Ruangan-ruangan bekas barak militer, asrama, pos jaga bisa dilihat di dalam benteng dan semuanya boleh dibilang dalam keadaan rapi dan bersih. Hanya saja sebuah papan pengumuman yang ditempel di bagian luar benteng berisi “Sebelum masuk benteng sebaiknya anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing”, sempat menimbulkan kerutan di dahi saat membacanya karena berkesan seram. Mungkinkah pernah terjadi hal-hal diluar nalar yang menimpa pengunjung saat berada di dalam benteng, seperti kesurupan ?

Benteng Van der Wijck sebenarnya dibangun pada sekitar tahun 1820-an, bersamaan meluasnya pemberontakan Diponegoro. Pemberontakan ini ternyata sangat merepotkan pemerintah kolonial Belanda karena Diponegoro didukung beberapa tokoh elit di Jawa bagian Selatan. Maka dari itu Belanda lalu menerapkan taktik benteng stelsel yaitu membangun benteng di daerah yang mereka kuasai.  Tokoh yang memprakarsai pendirian benteng ini adalah gubernur jenderal Van den Bosch. Tujuannya jelas yaitu sebagai tempat pertahanan (sekaligus penyerangan) di daerah karesidenan Kedu Selatan. Pada masa itu, banyak benteng yang dibangun dengan sistem kerja rodi (kerja paksa) karena ada aturan bahwa penduduk harus membayar pajak dalam bentuk tenaga kerja. Tentu saja cara ini membuat penduduk kita makin menderita apalagi sebelumnya gubernur jenderal Deandels punya proyek serupa yaitu jalan raya pos (Anyer – Penarukan, sepanjang 1.000 km), juga dengan kerja rodi.

Dilihat dari bentuk bangunan, pembangunannya sezaman dengan benteng Willem (Ambarawa) dan Prins Oranje (Semarang, kini sudah hancur). Pada awal didirikan, benteng dengan tinggi tembok 10 m ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius). Namanya diambil dari salah seorang perwira militer Belanda (Frans David Cochius) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah satu wilayah karesidenan Kedu). Nama Van der Wijck, yang tercantum pada bagian depan pintu masuk, merupakan salah seorang perwira militer Belanda yang pernah menjadi komandan di Benteng tersebut. Reputasi van der Wijck ini cukup cemerlang karena salah satu jasanya adalah membungkam para pejuang Aceh, tentunya dengan cara yang kejam.

Pada zaman Jepang, benteng ini dimanfaatkan sebagai barak dan tempat latihan para pejuang PETA.

Dilihat dari fisiknya, bangunan yang luasnya 3.606,62 m2 ini sudah mengalami renovasi yang cukup bagus. Sayangnya renovasi ini kurang memperhatikan kaidah konservasi bangunan bersejarah mengingat bangunan ini potensial sebagai salah satu warisan budaya (cultural heritage).

3. Goa Petruk

Goa Petruk merupakan salah satu obyek wisata di Kebumen, Jawa Tengah. Obyek wisata ini dekat dengan Pantai Logending, di mana lokasinya berada di dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, atau sekitar 4,5 km dari Jatijajar menuju ke arah selatan.

Mendengar nama Petruk, orang tentu akan teringat nama Ponokawan anak Ki Semar yang berbadan tinggi, namun hidungnya sangat mancung. Konon, dalam cerita pewayangan, Petruk ini anak dari lelembut Banaspati yang kemudian diambil anak oleh Ki Semar dan Petruk ini dikenal mempunyai banyak akal.

Sayangnya walau banyak orang telah mendengar Goa Petruk, tetapi masih enggan untuk mengunjungi obyek wisatawan tersebut. Di dalam Goa memang terlihat cukup menakutkan, karena tak ada pijaran atau nyala lampu. Namun Goa Petruk ini menurut catatan Doktor Koo, seorang pakar Goa dari luar negeri merupakan Goa terindah di seantero Nusantara.

Goa Petruk ini terbagi menjadi tiga bagian dengan panjang 350 m. Bagian pertama atau di lantai I hanya terdapat kelelawar yang berterbangan ke sana kemari dan berbau kurang sedap. Sedang untuk Goa kedua dalam lokasi tersebut diberi nama Goa Semar.

Dalam Goa semar kita akan disuguhi pemandangan dari bebatuan yang cukup indah dan mempesona. Bahkan ada yang mengatakan, masuk Goa Petruk laksana melihat alam yang tiada taranya karena terdapat batu stalaktit dan stalagmit yang mempesona dan menyerupai berbagai bentuk.

Sedang goa yang terakhir, disebut Goa Petruk, karena dalam Goa tersebut terdapat batu yang mempunyai ujud seperti hidungnya Petruk. Sayang, karena ulah Belanda yang waktu itu melakukan penambangan phosfat, hidung Petruk yang merupakan logo dari Goa tersebut putus dan kini sudah tak kelihatan lagi.

Tapi bukan itu sebetulnya yang ditawarkan oleh goa tersebut, di mana keindahan goa tersebut bukan hanya dari hidung Petruk yang sangat mancung, tetapi panoramanya yang memang cukup indah. Untuk itu tidak ada salahnya kalau kamu  jalan-jalan ke goa ini.

Sambil menikmati bebatuan yang banyak aneka ragam dan bentuknya, telinga kita akan mendengarkan bunyi air yang jatuh dari langit goa, atau dari bebatuan yang indah, sehingga menambah kenyamanan kita untuk menyaksikan keajaiban Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Untuk mengunjungi goa Petruk ini, sebaiknya kita mempersiapkan peralatan berupa sepatu dari plastik atau kare, sehingga tidak bisa tembus air. Tetapi, jangan gunakan sepatu yang berhak tinggi yang nantinya akan cukup merepotkan.

Peralatan lain yang perlu dipersiapkan adalah senter yang cukup terang dan topi untuk menghindari benturan. Bila perlu, kita bawa kamera dengan lampu blitz yang baik. Dengan demikian kita bisa menyaksikan keindahan Stalagmit dan Stalaktit.

4. Goa Jatijajar

Goa Jatijajar adalah sebuah goa alam yang terdapat di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Gua ini terbentuk dari batu kapur. Gua Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketinggian dari permukaan laut 50 meter.

Gua ini ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Gua tersebut yang Bernama Jayamenawi. Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh ke sebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Gua tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.

Pada mulanya pintu-pintu Gua masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Gua yang sekarang untuk masuk. Karena di muka pintu Gua ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka gua tersebut diberi nama Gua Jatijajar.

5.  Pantai Petanahan

Pantai petanahan merupakan pantai yang terdapat di kecamatan Petanahan atau sebelah selatan kota Kebumen. Pantai Petanahan yang indah ini terletak di tepi pantai Lautan Indonesia kira–kira 17 km ke arah selatan dari kota Kebumen. Objek wisata ini dapat dicapai dengan kendaraan umum atau pribadi dan biasa dikunjungi banyak wisatawan khususnya pada Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru. Event yang sering dilaksanakan adalah Festival Layang-layang baik tingkat nasional maupun regional dan Lomba Pancing Ikan. Pesanggrahan Pandan Kuning merupakan bagian dari daya tarik pantai Petanahan karena ditempat inilah banyak wisatawan yang datang untuk berziarah dan menyepi.

Menurut para sesepuh, tokoh masyarakat dan buku legenda yang ditulis oleh Dinas Pariwisata setempat, pada sekitar tahun 1601, yakni pada masa pemerintahan Mataram yang Rajanya Sutawijaya, terlahirlah seorang gadis cantik dan jelita yang bernama Dewi Sulastri. Ia adalah anak dari seorang Bupati Pucang Kembar.  yang bernama Citro Kusumo. Oleh  ayahnya Sulastri telah dijodohkan dengan Joko Puring, Seorang Adipati di Bulupitu. Sayang, ia tak mau dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya.

Namun ketika seorang anak Demang yang bernama Raden Sujono datang dan minta untuk bisa bekerja dengan ayah Sulastri, hati Sulastripun tertaut padanya.

Terjadilah cinta segitiga antara Joko Puring dan Raden Sujono yang sama-sama mencintai Dewi Sulastri. Cinta segitiga ini akhirnya berkembang menjadi huru-hara bagi Kabupaten Pucang Kembar. Namun dengan modal nekat  Raden Sujono berhasil mempersunting Dewi sulastri (yang kelak menggantikan kedudukan ayahnya di Kabupaten Pucang Kembar).

Prahara cinta ini tak berhenti sampai di sini, ketika suami Sulastri sedang menjalankan tugas negara memberantas berandal, atau preman-preman, Joko Puring berhasil menculik Sulastri hingga ke Pantai Karanggadung yang sekarang dikenal sebagai Pantai Petanahan.

Raden Sujono lalu mencari isterinya sehingga pertarungan antara dirinya dan Joko Puring tak bisa dihindari. Selama proses pertempuran itu, Sulastri diikat pada pohon pandan. Namun terjadi keajaiban pada pohon tersebut dimana pohon tersebut berubah menjadi Pandan Kuning dan nama tersebut digunakan untuk memberi nama tempat beristirahatnya Sulastri dan suaminya, setelah Joko Puring berhasil dikalahkan. Untuk selanjutnya, tempat peristirahatan itu menjadi tempat peristirahatan/pesanggrahan Loro Kidul. Hingga kini, tempat itu banyak dimanfaatkan orang  untuk semedi dan mengheningkan cipta.

Di tempat ini pula, setiap malam Jum’at Kliwon Bulan Syura diadakan upacara larungan. Upacara itu dimulai sejak siang hari sampai menjelang ayam berkokok.

6. Pantai Logending

Pantai Logending terletak 11 kilometer arah selatan Gua Jatijajar, tepatnya di Desa Ayah, Kecamatan Ayah.

Pantai Logending dilengkapi sarana berupa jembatan yang menjorok ke laut atau dermaga sepanjang 554 meter sehingga pengunjung bisa berjalan-jalan di jembatan itu seraya menikmati keindahan air laut.

Di obyek wisata ini terdapat bumi perkemahan dan kawasan hutan jati milik Perhutani yang menambah asri dan keindahan Pantai Logending.

Warga sekitar pantai biasanya menyiapkan puluhan perahu tradisional untuk  disewakan kepada pengunjung sebagai sarana rekreasi menikmati tepian Laut Selatan muara Sungai Bodo. Pengunjung juga dapat menikmati sea food di warung-warung atau belanja ikan segar.

7. Pantai Karangbolong

Pantai Karangbolong terletak lebih kurang 18 km arah selatan kota Gombong atau 39 km arah barat daya dari kota Kebumen. Pantainya merupakan pantai landai berpasir yang cukup luas, dibatasi oleh perbukitan yang disusun oleh batuan sedimen klastik asal gunung api. Pasirnya berwarna kelabu yang berukuran halus-kasar bersumber dari batuan-batuan tersebut. Sapuan ombak besar yang membentur dinding perbukitan menghasilkan energi yang cukup untuk mengikis, mengangkut, dan mengendapkan kembali butiran-butiran batuan. Derajat pelapukan yang tinggi di kawasan ini mempercepat proses abrasi. Singkapan breksi lahar yang berada di pinggir pantai mengalami pengikisan, menghasilkan bentukan abrasi yang lucu. Namun demikian, Pantai Karangbolong mempunyai potensi membentuk arus balik yang kuat, sehingga merupakan kawasan yang berbahaya untuk berenang. Selain pantainya, Karangbolong juga mempunyai sebuah gua bernama Gua Karangbolong, berupa lubang besar terbentuk pada lapisan breksi lahar yang terkekarkan. Gua Karangbolong ini berukuran panjang 30 m, lebar 10 m dan tinggi 5 m. Pembentukan gua Karangbolong dipengaruhi oleh peruntuhan yang terjadi di sepanjang batas bidang perlapisan antara breksi dengan batu pasir atau batu lempung. Lubang peruntuhan akan semakin besar karena lapisan batuan yang menggantung di atap lubang selalu runtuh akibat beratnya. Karena bukan gua batu gamping, maka di dalam gua Karangbolong tidak dijumpai ornamen.

Kawasan pantai Karangbolong terkenal dengan sarang burung waletnya yang merupakan komoditi andalan Pemerintah Daerah. Burung-burung kecil pemakan serangga itu tinggal di dalam lubang, ceruk, atau gua-gua breksi di sepanjang dinding terjal yang berbatasan langsung dengan laut. Sulitnya memvisualisasikan proses pengambilan sarang burung secara tradisional mendasari ide pembuatan miniatur cara pemanenan di atas gua Karangbolong. Pengambilan sarang burung yang dilakukan 4 kali dalam setahun didahului dengan serangkaian prosesi adat dan pertunjukan kesenian daerah.

Sarang burung walet adalah air liur burung walet yang kering yang bisa diolah menjadi makanan yang mempunyai sejuta manfaat untuk tubuh. Kata orang, burung walet atau apodidae memiliki sekitar 30 spesies. Walet pun mempunyai beberapa sayap yang menyempit dan runcing, serta ekor yang panjang, sehingga burung ini bisa menempel dan bergantung di dinding-dinding goa dan bisa membentuk sarang. Sarang burung walet yang terbentuk katanya sih mengandung protein, mineral dan juga sumber asam amino yang lengkap sehingga baik untuk dikonsumsi. Karena proses pengunduhannya cukup sulit, maka sarang burung walet dijual dengan harga tinggi, dimana angka penjualannya mencapai hingga 12 juta-20 juta/kg.

pengunduh sarang burung walet

Untuk dapat mengunjungi pantai Karangbolong, wisatawan dapat menempuh jalan aspal dengan nyaman dari arah kota Gombong ke selatan yang berjarak lebih kurang 18 km dengan waktu tempuh lebih kurang 30 menit menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Angkutan umum yang melayani trayek Gombong-Karangbolong bolak-balik juga cukup tersedia. Selain dari arah kota Gombong, pantai ini juga dapat dilalui melalui jalur selatan Mirit-Buluspesantren-Petanahan-Puring. Dari Kecamatan Puring terus menuju ke barat lebih kurang 10 km. Mulai dari Kecamatan Puring, wisatawan dapat menyusuri jalan yang kanan kirinya berupa pagar daun pandan. Sesampainya di Desa Karangmangu terdapat sebuah jembatan megah di atas sungai Suwuk, yang menghubungkan dengan Desa Karangbolong. Bila wisatawan menggunakan akses perjalanan dari Puring ke arah barat, begitu masuk Desa Karangmangu langsung dapat menyaksikan pantai dan gua tiruan, sedangkan kalau melalui Gombong ke selatan, pertama kali masuk lokasi pantai Karangbolong wisatawan akan menyaksikan langsung sebuah patung pengunduh sarang burung yang gagah perkasa. Sebelah timurnya terlihat pesanggrahan Nyi Rorokidul. Baru setelah melewati pintu retribusi dan melalui perjalanan kurang lebih 300 meter wisatawan dapat langsung melihat pantai dan Gua Karangbolong Tiruannya. Dari bibir pantai terlihat dengan jelas pegunungan seribu yang menjorok sampai laut dan beberapa perahu nelayan terlihat dengan jelas di arah Samudera Hindia.

(berbagai sumber)

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 28, 2011 in Travelling

 

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: