Film


selendangrocker

Pengen denger Candil nyanyi lagu melayu ga? nonton deh Selendang Rocker... film yang dibintangi Candil, mantan vokalis grup band rock:  Seurius.

Serius nih film kudu ditonton secara lucu gila… hihihi… lumayan buat ngilangin rasa bete kamu… apalagi tanggung bulan gini, nunggu gajian masih lama… lah, apa hubungannya?!

Adalah Ipang (yang diperankan oleh Candil), dan teman2 musisinya dari grup band The Pangky’s: Ozi (Ramzi) sang drummer, trus  Eric (Edric Tjandra), sang gitaris  dan Joy (Saykoji) keyboardist dan rapper yang bertubuh tambun.

Mereka berempat lalu diminta oleh Pak Can (produser mereka) untuk menyanyikan lagu2 melayu saja secara band mereka udah turun pamor. Bagi Eric adalah suatu penghinaan harus menyanyikan lagu2 melayu karena itu adalah : “pembunuhan karakter”. Tapi mereka terpaksa mengikuti keinginan Pak Can secara mereka terikat kontrak dan punya utang ke Pak Can sebanyak 400 juta rupiah.

Mereka akhirnya kepaksa bekerjasama dengan Munanada (diperankan oleh Joe P-Project). Munanada yang biasa dipanggil Pak Haji adalah penyanyi melayu senior yang merupakan legenda musik melayu di Indonesia. Oleh Pak Haji  mereka dilatih nyanyi melayu sampe diperciki air segala. Mereka juga dipaksa ngikutin visi dan misi Munanada. The pangky’s ngikut ajah apa maunya Pak Haji… tapi saat Pak Haji  ngajak mereka pergi ke makam leluhur mereka yang menjadi legenda musik melayu (kalo ga salah namanya Maman Romansa) dan disuruh makan melati agar suara mereka bagus, Ipang marah karena merasa sudah dibodohi. Ipang lalu meludahi makam tersebut membuat  Pak Haji jadi berang dan mengutuk Ipang, bahwa Ipang, gimanapun bakal balik ke musik melayu.

Kutukan Pak Haji terbukti benar, di setiap kesempatan Ipang selalu mendengar musik melayu, sampai akhirnya ia benar2 jatuh cinta sama musik melayu.

Well, mu tau gimana lengkapnya cerita film ini, mending nonton aja, hehehe… kalo boleh jujur gue suka banget sama perannya Joe sebagai Pak Haji, yang mengingatkan gue sama bang Haji Rhoma (atau memang peran Joe memparodikan bang Haji Rhoma? entahlah). Kata-kata yang khas yang diucapkan Pak Haji (di film ini) selain terlalu, adalah terlala… (katanya sih terlala itu lebih dari terlalu)…. hahahahaha…. bahasa darimana tuh, Pak Haji bisa ajah….

Pemain :

Candil, Saykoji, Ramzi, Edric Tjandra, Joe P Project, Sarah Jane

Ilustrasi Musik : Candil

Penulis Skenario : Benni Setiawan

Sutradara : Awi Suryadi

Produser : Gope Samtani, Subagio S.

Produksi : Rapi Films

Motto Film : Gaya Metal, Melayu Kental…….

Hm…. dari sekian banyak film yang bergenre horor dan komedi, akhirnya muncul juga film yang bernuansa islam yang kabarnya menjadi film yang paling ditunggu masyarakat muslim Indonesia, yaitu Ketika Cinta Bertasbih (KCB)

KCB diangkat dari novel best-seller karya Habbiburrahman El Shirazy dan diproduksi oleh SinemArt Pictures. Lima pemeran utama film ini diambil berdasarkan casting yang dilakukan di beberapa kota besar di Indonesia, sehingga terpilih :

- Cholidi Asadil Alam sebagai Khairul Azzam (asal Pasuruan).

- Oki Setiana Dewi sebagai Anna Althafunnisa (asal Batam).

- Alice Norin sebagai Eliana Pramesti (asal Jakarta).

- Andi Arsyil Rahman sebagai Furqon (asal Makassar).

- Meyda Sefira sebagai Ayatul Husna (asal Bandung).

Mereka  berlima lolos setelah menyisihkan kurang lebih 6000 peserta.

Film ini disutradarai oleh Chaerul Umam dengan Imam Tantowi sebagai screenplay-nya.

Film ini mengisahkan tentang perjuangan pemuda Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir, yang bernama Khairul Azzam (diperankan M. Kholidi Asadi Alam). Azzam harus menyelesaikan kuliahnya selama 9 tahun karena keasikan bekerja sebagai tukang tempe dan tukang bakso untuk membiayai ibu dan ketiga adik  perempuannya di kampung (Solo) karena ayahnya sudah meninggal.

Tapi yang menurut gue kurang di sini adalah aktivitas Azzam dalam bekerja kok kurang keliatan yah?!…. katanya tukang bakso?! tapi aktivitas dia jualan bakso ga ada… hanya menggambarkan saat dia bikin tempe doang, itupun scene-nya sedikit, jadi kurang terlihat aja gimana kerja kerasnya Azzam.

Masakan Azzam ceritanya terkenal sampe KBRI Mesir, sehingga Azzam bisa kenal dengan putri Dubes, yaitu Eliana Pramesti (Alice Norin).

Eliana sepertinya suka sama Azzam, demikian juga Azzam, tapi sayangnya, tipe wanita seperti Eliana bukan wanita idaman Azzam untuk dijadikan isteri karena Eliana tidak berjilbab dan gaya hidup Eliana juga sudah terkontaminasi gaya hidup orang bule.

Supir Eliana, yaitu Pak Ali (Didi Petet) menyarankan pada Azzam agar melamar putri Pak Kyai yang bernama Anna Althafunnisa (Oki Setiana), S2 dari Kuliyyatul Banaat  (Alexandria). Saat niat itu disampaikan pada Ustadz Mujab (Habiburrahman El-Shirazy) ternyata Anna sudah dilamar oleh Furqon (Andi Arsyil Rahman). Azzam terpaksa menahan kekecewaannya.

Tapi tanpa Azzam sadari, ia sudah bertemu dan berkenalan dengan Anna. Hal itu terjadi saat ia menolong Anna mendapatkan buku -buku Anna yang ketinggalan di sebuah bis.

Di kampung, Anna berkenalan dengan Ayatul Husna (Meyda Sefira) yang berprofesi sebagai novelis yang merupakan adik Azzam.

Singkat cerita, Anna yang sudah kembali tinggal di rumah orangtuanya  mau menerima lamaran Furqon dengan syarat tidak mau dimadu atau tidak mengijinkan Furqon menikah lagi dengan wanita lain saat sudah menikah dengan dirinya (setuju banget gue sama Anna, hahaha… hidup Anna! ke laut aja para cowo yang suka mendua ato mentigakan wanita, heuheuheu……). Tanpa Anna tahu, Furqon, suaminya ternyata mengidap virus HIV.  Virus itu Furqon dapet dari suntikan komplotan pemeras yang sengaja menjebaknya waktu Furqon masih di Mesir dan belum pulang ke tanah air.

Film kemudian bersambung……………… lah kok bisa?! itu dia yang ga bikin greget, KOK BISA?! mungkin pengen bikin penonton penasaran kali yah, tapi sayangnya gue ga penasaran….

kenapa sih ga ditamatkan saja sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh?! kesannya kan jadi eklusif gituh!… walo novelnya terbagi dua bagian tapi kan filmnya bisa dijadiin satu?!….. ga cool ah, ga asik, nonton film kayak nonton sinetron ajah….

yang jelas, dari kemasan yang disusun serapi dan seapik mungkin jadi berantakan gara2 endingnya yang gantung…..

yang juga sangat disayangkan di sini adalah gambar2 di kota Kairo atau Alexandria sedikit sekali ditampilkan. Padahal katanya biayanya udah mahal banget untuk syuting di sana. Keindahan sungai nil kurang terekspose, kesibukan di sekitar sana juga kurang. Blum lagi pyramid-nya, hanya ditampilin secara sekilas aja, jadinya kurang eksotik.

Dan yang bikin penasaran, adalah saat diadakan jamuan makan malam di halaman Dubes, langitnya keliatan aneh, itu asli atau hasil tempelan?!…. heuheu… ada2 aja….

tapi ya sudahlah, lepas dari kemasan yang dibuat, masyarakat sangat antusias kok untuk menontonnya. Kabarnya penonton lebih membludak dari film Ayat-Ayat Cinta yang juga jadi box- office. Dan kabarnya lagi film ini akan turut ditayangkan di negara2 seperti  Mesir, Brunei, Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan dan Australia.

Ada sedikit pembelajaran yang bisa kita dapet dari menonton KCB karena  KCB mengetengahkan  pesan2 religius, yang menyejukan hati dan bisa dijadiin bahan acuan.  Khususnya tentang perjuangan hidup,  kesucian cinta serta ketulusan dan ketabahan hati.

Gue mencoba mencermati, apa yang menarik dari Slumdog Millionaire sampe berhasil meraih predikat prestisius dari Oscar yaitu kategori Best Picture (dan pastinya penghargaan lainnya). Dan menurut penilaian gue, adalah screenplay-nya bagus bangets. Ada banyak adegan flash-back di sana, tapi semuanya tetap menjadi satu kesatuan yang utuh dan bikin penasaran. Nonton Slumdog Millionaire bikin gue nggak beranjak, sampe film itu benar2 selesai.

Seperti kita ketahui, Slumdog Millionaire adalah film adaptasi dari novel karya Vikas Swarup (seorang novelis India yang berprofesi juga sebagai seorang diplomat), yang punya judul asli Q & A, yaitu sebuah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda miskin yang berasal dari wilayah kumuh di Mumbai, India, yang berprofesi sebagai waiter, yang akhirnya bisa jadi jutawan karna kuis Who Wants To Be A Millionaire? (di India kuis itu dikenal dengan nama Kaun Banega Crorepati). Si pemuda, yaitu Ram Mohammad Thomas (di versi film namanya Jamal Malik), kemudian dituduh curang dalam menjawab pertanyaan di kuis tersebut, lalu dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi walopun tanpa bukti.

Novel karya tuan Swarup itu ternyata emang mendapat pujian dari banyak kritikus sastra dan berhasil memenangi penghargaan Exclusive books boeke prize 2006 di Afrika Selatan dan The Prix Grand Public at the 2007 dari Paris Book Fair. Bahkan novel tersebut selain jadi bestseller, juga udah diterjemahin ke dalam 40 bahasa.

Nah, yang ingin gue pertanyakan di sini adalah, apakah versi novel dan versi film itu mirip (soale, gue blom baca novelnya, hehe), tapi hanya menebak-nebak saja, sepertinya sih tidak (sotoy bangets, xixixi). Yah, namanya juga adaptasi, pasti hasilnya beda. Itulah salah satu kelebihan Slumdog Millionaire seperti yang udah gue bilang di atas, yaitu pada screenplay-nya.

Adalah Simon Beaufoy, seorang penulis skenario asal Inggris, yang membuat Slumdog Millionaire jadi menarik. Beaufoy udah cukup lama berkiprah di bidang film. Hasil karyanya udah cukup banyak, diantaranya Closer (1998), The Darkest Light (1999), This is not a love song (2001) dan yang lainnya. Kerja keras Beaufoy untuk Slumdog Millionaire ternyata ga sia2 secara dia berhasil memperoleh penghargaan best screenplay dari Golden Globe, best adapted screenplay dari Academy Award dan juga dari BAFTA award.

Tapi of course, cerita ga akan terjalin dengan indah tanpa karakter kuat dari para pemainnya (ada Dev Patel yang manis, Freida Pinto, Anil Kapoor, Irrfan Khan, Ayush Mahesh Khedekar, Tanay Chheda, Saurabh Shukla, dll). Dan itu terjadi atas arahan yang pintar dari Danny Boyle yang dibantu asistennya Loveleen Tandan. Mr. Boyle selain dapet penghargaan best director dari BAFTA, Golden Globe dan Academy Award, dia sama Loveleen Tandan juga berbagi piala kemenangan yang dihadiahkan New York Film Critics Online Award. Sebelum Slumdog Millionaire, Mr. Boyle pernah menyutradarai Trainspotting (film tentang pecandu heroin yang juga diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama), 28 days later (film fiksi ilmiah) dan Sunshine.

Gimanapun, Slumdog Millionaire berhasil menjadi film yang asik ditonton karena teamwork dari semua pihak yang terlibat, benar2 okeh, termasuk casting para pemainnya. Nuansa perkampungan India yang kumuh juga terasa kental disana, walo kabarnya, setting yang diambil di India sebenarnya hanya 20% saja. Potret negara India (kota mumbai) sebagai negara asia yang crowded tergambar jelas. Gambaran yang sebenernya ga berbeda jauh dari Jakarta.

Tapi, ada yang aneh for me di sini. Emang itu pembawa acaranya (Anil Kapoor) segitu irinya sama si Jamal sampe ngasih jawaban (di kaca toilet) salah segala?! Bukankah seorang host (apapun acara yang dibawainnya, terlebih2 acara kuis), harus bersikap netral dan honest?!. Whatever-lah. Toh, emang begitu adanya.

Di waktu luang kamu nggak tau musti ngapain?! gampang aja, nonton aja si jago merah, film yang disutradarai Iqbal Rais produksi star vision ini lumayan seru loh untuk ngisi waktu luang kamu. Cukup menghibur dan bisa bikin kamu ketawa. Maap, ini bukan promo, ini cuma jualan (sama ajah!!), maksudnya ini cuma saran…. heuheu…

Si Jago merah menceritakan tentang 4 mahasiswa yang nyambi kerja jadi pemadam kebakaran. Awal mulanya mereka nunggak uang kuliah sampe 4 semester. Mereka sebenernya anak orang kaya, tapi ortu mereka bangkrut (dengan berbagai macam alasan, kalo nggak salah ada yang bangkrut karna lumpur Lapindo, coba Para pejabat negara, gimana tuh penanggulangannya, hehe peace!), sehingga mau ga mau mereka harus cari cara untuk bayar uang kuliah mereka. Mereka lalu berhutang untuk membiayai tunggakan tersebut. Dan untuk membayar utang tersebut, mereka akhirnya nyambi kerja.

Judika (as Rojak Panggabean, nyambi jadi tukang taksi, tapi sempet marah2 karna ada penumpang yang ga bayar, cape deh), Agus Ringgo (as Dede nyambi jadi sales kosmetik, tapi kosmetiknya ga laku2, kasian deh), Desta (as Gito, nyambi jadi bartender yang minumannya ga enak untuk diminum), Ytonk (as Kuncoro nyambi jadi petugas parkir and mobil yang musti diparkirin ga abis2).

Karena jam kerja mereka ga memungkinkan mereka untuk nyambi kuliah, akhirnya mereka mutusin untuk nyari kerjaan yang lebih nyante yang bisa disambi kuliah. Untuk itulah mereka akhirnya ngelamar jadi petugas pemadam kebakaran. Yeah, nyante karena nggak tiap hari terjadi kebakaran.. (heuheu bisa aja).

Awal mula menjalani tugas mereka sebagi petugas pemadam kebakaran, mereka hanya ngurusin hal2 sepele, dari ngambil cincin yang jatuh ke toilet (apa bener hal ini pernah terjadi?! kayaknya terlalu lebay deh) sampe ngambilin binatang peliharaan nenek2 yang nangkring di atas pohon (nah kalo ini ga lebay)

For the whole story, film ini menghibur (pisan), tapi (punten) kayaknya jarang ada kejadian kebakaran yang disiarin live di tipi deh, apalgi petugasnya (dede/ringgo) dizoom segala (adegan waktu kebakaran di museum)…

Trus abis getho, agak kurang komplit juga diceritain gimana cara2 nyelamatin orang dalam situasi kebakaran, harusnya kan dijelasin lebih rinci, pan lumayan buat masukan. Di situ hanya divisualisasiin gimana ke-4 mahasiswa itu ikut latihan (yang lumayan berat) untuk bisa jadi petugas  pemadam dengan dibarengi OST yang dibawain The Cangcuters (tapi sumpah nama pelatihnya lucu loh kodrat firasat, hihihi..)

But, that’s just my opinion, nggak usah terlalu dipikirin (siapa juga yang mikirin!) jangan  dianggap terlalu serius.

Pokonya nice try ‘n nice job guyzsi jago merah bener2 alternatif tontonan yang menghibur. Judika sebagai pemain pemula, wuh, perannya dapet banged (tuh sampe pake ‘d’  saking dapetnya), pol2an dah, lucu dan cablak gimana getho… nggak tau deh apa itu karena Judika orang batak beneran sehingga perannya pas (tapi aslinya judika orangnya emang lucu, xixixi). Buat Agus Ringgo, wah tampangnya lumayan cute (kok cuma lumayan seh?!), ga tau kenapa gue selalu suka akting agus. Good luck buat si jago merah.

Ups, kelupaan. Prinsip hidup gue sangatlah tegas, yaitu….. GIMANA RAMENYA AJA!!!  hahaha……

Le Grand Voyage, perjalanan spiritual ke tanah suci

Di antara waktu luang, terkadang gue iseng nyewa film. Maklum hobi nonton. Kebanyakan sih film2 lama, tapi film baru juga tetep dicari. Dari mulai serial Korea yang dibintangi Rain, cowok ter-cool sekorea, hehe.. sampe film2 yang dibintangi Shakruk Khan (ups,  jangan salah, gue ngefans loh sama Sakhruk.. abis kalo dia akting, dalem banget, kalah sumur…)

Dari sekian banyak film yang udah gue liat, ada satu film yang menurut gue remarkable banget. Yaitu, Le Grand Voyage, film berbahasa Perancis produksi Humbert Balsan yang diproduksi tahun 2004.

Film ini dibintangi oleh Nicolas Cazale dan Mohamed Majd. Bercerita tentang perjalanan seorang pria (yang ditemani anak cowoknya) yang menunaikan ibadah haji ke tanah suci dengan menggunakan mobil. Jarak yang harus ditempuh (untuk pergi) adalah kurang lebih 5000km. Serius?! ya iyalah Seurius, masa the cangcuters, hehehe…

Sebenernya kalo dari segi visual, visualisasi film tersebut biasa2 aja, tapi dari segi ide cerita dapet banget. Sederhana, tapi cukup mengena di hati, sangat bagus untuk menambah wawasan spiritual kita.

Film dibuka saat Reda (Nicolas Cazale) diminta ayahnya (Mohamed Majd) untuk menemaninya sekaligus menyupirinya ke tanah suci umat muslim, yaitu Mekah.

Tadinya ayah Reda akan mengajak kakak Reda (Khalid) untuk pergi, tapi berhubung surat2 kendaraan Khalid disita polisi karena Khalid melanggar lalu lintas, akhirnya Redalah yang mendapat tugas menemani ayahnya. Reda merasa kesal karena ia sebenarnya akan menjalani ujian akhir, tapi ia tak bisa menolak permintaan ayahnya.

Ayah Reda dan keluarganya sudah bermukim di Perancis selama kurang lebih 30 tahunan. Keluarga mereka adalah imigran asal Maroko.

Saat mau pergi, Khalid (kakak Reda) meminjamkan kameranya pada Reda. Ia berpesan agar Reda mengabadikan foto selama perjalanan. Tapi sayangnya saat melewati Milan dan Venesia, ayah Reda tidak mengijinkan Reda untuk menghentikan mobilnya. Padahal Reda ingin sekali mengambil foto dan melihat2 keadaan. Ayahnya bilang bahwa mereka pergi bukan untuk bertamasya.

Di perjalanan, Reda selalu berkomunikasi dengan pacarnya, Lisa lewat hape. Saat Reda tidur, ayahnya membuang hape Reda ke tong sampah.

Menuju Beograd, mereka tersesat, jalan yang mereka lewati tidak ada di peta. Reda ingin balik arah ke Zagreb untuk langsung menuju jalan tol ke arah Beograd, tapi ayahnya keukeuh menyuruhnya lewat jalan kecil. Di persimpangan, Reda bertanya mau ke kiri atau ke kanan, ayahnya melihat ke arah langit, lalu memutuskan untuk bermalam di tempat tersebut.

Esok paginya, saat melanjutkan perjalanan, mereka bingung harus kemana. Mereka tiba2 ketemu ibu tua yang berpakaian hitam2 di daerah terpencil tersebut (tanpa membawa koper dan lainnya). Saat bertanya kemana arah menuju Beograd, ibu itu diam saja, dia malah masuk mobil dan menumpang mobil mereka. Tangannya hanya menunjukkan bahwa mereka lurus saja.

100km menuju Beogrod, dokumen mereka diperiksa petugas. Saat Reda melihat ke tempat duduk belakang, ibu itu menghilang, tapi melewati perbatasan, ibu itu tiba2 mencegat mobil mereka dan ikut lagi. Kali ini dia bilang kalo dia ingin ke Delic.

Reda dan ayahnya bertanya pada orang2 dimana Delic berada, tapi tak ada yang tahu. Mereka akhirnya meninggalkan ibu tersebut di suatu penginapan yang mereka lewati.

Dalam perjalanan menuju kota Sofia, mereka terjebak dalam salju. Sambil menunggu badai salju, Reda bertanya pada ayahnya kenapa mereka tidak pergi ke Mekah dengan menggunakan pesawat saja, ayahnya bilang:

“saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Air laut menguap ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar. Itulah sebabnya lebih baik naik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.”

Ayah Reda juga bercerita : “ketika aku kecil, almarhum kakekmu berangkat (menunaikan ibadah haji) dengan naik keledai. Kakekmu lelaki pemberani, tiap hari ayah naik ke atas bukit, di sana ayah bisa lihat cakrawala. Ayah ingin menjadi orang pertama yang melihat (cakrwawala) itu kembali.”

Cuaca berubah tambah buruk, di dalam mobil, Reda kedinginan, ia tak bisa tidur karena terlalu dingin. Tapi akhirnya ia tertidur juga. Saat Reda bangun, mobil mereka terkubur salju, dan ayahnya pingsan kedinginan.

Reda lalu membawa ayahnya ke rumah sakit di kota Sofia. Mobil mereka diparkir di stasiun kota, mereka pergi ke rumah sakit dengan naik taksi. Saat ayahnya bangun, ia minta Reda untuk mengambilkan buku doa di laci mobil mereka. Redapun pergi untuk mengambil buku doa yang diminta ayahnya. Dalam perjalanan, di pinggir jalan Reda melihat ibu tua yang pernah menumpang mobil mereka.

Memasuki Turki, Reda mengalami masalah karena paspornya dianggap bermasalah. Mereka tertahan di perbatasan selama satu jam. Untung ada seorang pria (Mustapha) yang bisa berbahasa Perancis yang membereskan masalah itu. Mustapha lalu ikut mobil mereka dan minta Reda mengantarkan dirinya ke rumahnya di Istambul.

Mustapha meminta Reda untuk minum teh di rumahnya, Reda menerima tawaran itu, tapi ayahnya menolaknya. Mustapha kemudian minta pada mereka agar mengijinkannya ikut pergi ke tanah suci.

Di Istambul, Reda melihat2 keindahan masjid di sana. Ada satu masjid yang bernama masjid biru, dimana konon di masjid itu terdapat potongan Hajar Aswad.

Bersama Mustapha akhirnya Reda bersenang2 minum bir. Keesokan harinya saat Reda dibangunkan oleh ayahnya, uang ayahnya ternyata hilang dicuri. Mereka menuduh Mustapha mengambil uang mereka tapi Mustapha menolak tuduhan tersebut.

Reda dan ayahnya akhirnya melanjutkan perjalanan. Ayah Reda ternyata masih menyimpan cadangan uang yang ia selipkan di ikat pinggangnya. Uang itu sebenarnya untuk ongkos pulang mereka.

150km ke arah Damaskus, mobil mereka panas karena melewati gurun. Mereka lalu berhenti di sebuah sumber air di daerah gurun tersebut. Saat Reda sedang menuangkan air ke mobilnya, ada seorang janda dengan anaknya yang meminta uang. Tapi Reda acuh saja, tapi saat janda itu meminta uang pada ayahnya, ayahnya langsung memberikan. Reda langsung marah2, dia bilang bagaimana mungkin mereka menghamburkan uang saat mereka kekurangan uang.

Melihat kemarahan Reda, ayahnya menyarankan agar mereka menjual mobil mereka di Damaskus, setelah itu Reda boleh pulang naik pesawat, karena dari Damaskus, ayahnya bisa melanjutkan perjalanan seorang diri. Ia tak butuh Reda lagi.

Di dalam mobil, ayahnya menawari Reda roti, Reda menolak, ia bilang roti tidak cukup untuk mensuplai tenaganya. Ia butuh daging. Ayah Reda akhirnya menukar kamera kakak Reda dengan seekor kambing.

Reda merasa terganggu dengan keberadaan kambing di mobil mereka, ayahnya akhirnya memutuskan untuk memotong kambing itu saja, tapi saat mau dipotong, kambing itu malah lari.

Sampai di Arab Saudi, mereka bertemu dengan orang2 yang juga akan menunaikan ibadah haji. Mereka juga  datang dengan menggunakan mobil, bis dan yang lainnya. Mereka ngobrol tentang asal usul negara mereka, ayah Reda bilang :

“Kami dari Perancis. Kami menempuh perjalanan 5000 km untuk sampai ke sini. Kami melewati Italia, Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Syria, Yordania.”

Mereka lalu sholat berjamaah. Reda bertanya pada ayahnya, apa istimewanya Mekkah sehingga ayahnya ingin pergi ke Mekah. Ayahnya bilang:

“Mekah adalah tempat suci umat muslim. Berjuta2 orang datang ke sana untuk melakukan ibadah haji. Ayah harus memenuhi panggilan melakukan ibadah tersebut sebelum ajal menjemput.”

wah, untuk seorang awam, secara keseluruhan menurut gw film itu menarik, lucu dan bermakna. Sayangnya gue belum baca novelnya, heuheu.. jadi blom bisa ngadain perbandingan (ntar deh kalo sempet baca novelnya), tapi menurut beberapa orang yang udah baca novelnya, ada beberapa hal di novel itu yang sayangnya tidak dibahas di film (emang iya?!)…

Even that way, Laskar pelangi toh berhasil menjadi box office (pemutaran perdana meraup penonton sebanyak 1,3 juta penonton) paling enggak kalo gw nonton untuk film2 Indonesia yang lain, kursi banyak yang kosong, tapi untuk Laskar Pelangi gue antri beli tiketnya… (cape deh..)

Laskar Pelangi diuntungkan oleh tidak adanya batasan usia penonton alias boleh ditonton oleh semua umur. Jadi ga perlu heran kalo bioskop (saat gw nonton) penuh oleh anak2, dari usia kecil, abg/remaja, yang kuliah sampe emak2. Tapi toh untuk semua umur atau tidak terkadang tidak dapat menjamin film itu diminati/engga, jadi emang kembali ke film itu tadi, oke engga untuk ditonton.

Gw terkadang merasa ilfil dengan banyaknya film2 kita yang ga jelas juntrungannya, dalam arti kata banyak menampilkan unsur seks, horor dan hal2 yang ga masuk akal. Wah, kalo udah muncul film kayak gitu, emoh banget nonton, walo dibayarin… (heu2)…. apa sih sebenernya yang mo ditawarin?! just hiburan…. ga lebih. Orang akan langsung lupa kalo udah nonton film just hiburan tadi daripada menghibur sekaligus meninggalkan suatu kesan, dari laskar pelangi yang gue dapet, gue jadi tau (sedikit) sejarah SD muhammadiyah di desa Gantong, Pulau Belitung dan bagaimana perjuangan seorang Muslimah mendidik anak muridnya (masih banyak ga yah, muslimah2 lainnya saat ini di negeri kita?! moga2 masih).

Tau ga sih, temen gw ampe nangis sesegukan pas liat lintang harus pergi ninggalin sekolah dan temen2 yang dicintainya. Kalo gw, yah, mata gw hanya berkaca2, heuheu…. rasanya tragis sekali seorang jenius harus tidak bersekolah karena keadaan mengharuskannya begitu.

Ya sudah, sukses buat Mira dari Miles films, juga untuk Riri Riza dan yang lainnya.

Buat pekerja film kita, terus hadirkan karya yang bagus untuk kita. Sementara buat para penulis novel/skenario, moga bisa terus menghasilkan karya yang indah dan bermakna juga.