RSS

Bikin Wingko Babat Sendiri

17 Mei

Asal Usul Wingko Babat

Kalau lagi naik kereta ke daerah Gombong (untuk nengokin keponakan yang kebetulan sekolah di sana), gue sering banget ditawarin wingko babat. Terus kalo temen-temen gue abis bepergian ke Jogja, Semarang, Solo dan sekitarnya, gue juga sering dioleh-olehin wingko babat. Wingko babat adalah kue yang terdiri dari campuran tepung ketan dan kelapa.

Orang banyak yang menyangka wingko babat itu makanan khas semarang, padahal dari namanya jelas-jelas berasal dari Babat.

Babat adalah daerah kecil di Lamongan, Jawa Timur. Babat terletak di dekat Bojonegoro, Jawa Timur yang terkenal akan kayunya.

Di Babat, yang merupakan kota kecil dibandingkan dengan Semarang, Wingko memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah ini. Ada banyak perusahaan penghasil wingko yang memperkerjakan banyak orang. Kelapa yang digunakan untuk bahan wingko ini diambil dari daerah-daerah sekitar Babat.
Saat ini wingko adalah makanan yang terkenal di Babat dan Semarang dengan berbeda merek. Banyak Wingko yang saat ini masih menggunakan nama Tionghoa.

Sejarah Wingko Babat
Tersebutlah seorang wanita Tionghoa bernama Loe Lan Hwa bersama suaminya The Ek Tjong alias D.Mulyono mengungsi dari Babat ke Semarang sebagai dampak dari Perang Dunia II.

Di Semarang, sang suami mendapat pekerjaan di KA jurusan Stasiun Tawang, Semarang-Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Sementara itu, sang istri berusaha mencari tambahan penghasilan dengan membuat dan menjajakan wingko buatan sendiri. Daerah penjualannya mula-mula adalah sekitar Stasiun Tawang, tempat suaminya bekerja.

Keahlian Ny. D. Mulyono dalam membuat wingko diturunkan dari ayahnya, yang membesarkannya di kota Babat. Kue wingko ini memang kue yang banyak dibuat di kota Babat, hanya saja di sana dikenal dengan sebutan kue wingko saja.

Ternyata banyak warga Semarang yang menyukai kue wingko buatan Ny. D. Mulyono. Waktu itu, kue ini belum diberi merek seperti yang sekarang dikenal, sehingga orang-orang pun menanyakan nama kue ini. Sebagai kenangan atas Kota Babat tempat Ny. D. Mulyono ini dibesarkan, ia pun memberikan nama ‘Wingko Babat’.

Gambar kereta api pada bungkus kue ini merupakan pilihan D. Mulyono karena ketertarikannya pada sampul buku formulir saran di gerbong restorasi. Menyertai gambar kereta api, cap yang diberikan untuk wingko babat ini adalah ‘Cap Spoor’ yang kemudian berubah menjadi ‘Cap Kereta Api’.

Karena wingko babat ‘Cap Kereta Api’ ini pada mulanya dipasarkan di sekitar stasiun, maka kue ini pun menjadi terkenal sebagai buah tangan dan makin banyak dicari orang. Hal ini jugalah yang memicu banyak orang untuk mencoba peruntungannya dengan membuat dan menjual wingko babat dengan merek bergambarkan kereta api. Walaupun gambarnya tidak sama benar, namun keadaan ini sungguh membingungkan konsumen. Maka dari itu, untuk membedakan dengan merek lain, Ny. D. Mulyono mencantumkan nama suaminya “D. Mulyono”, dan di belakangnya ditambah kata-kata “d/h Loe Soe Siang” (nama ayahnya) pada pembungkus wingko babad buatannya. Tambahan “d/h Loe Soe Siang” tersebut dimaksudkan sebagai penegasan bahwa wingko babad merek D Mulyono itu merupakan kelanjutan dari wingko babad yang dibuat Loe Soe Siang di Babad.

Nah, kalo kebetulan kamu punya waktu luang dan pengen bikin wingko sendiri, gue ada resepnyah, ini dia :

Resep Wingko Rasa Original
Bahan  :

Tepung Ketan, 250 gram
Kelapa sedang, 1 butir, parut memanjang
Gula pasir, 175 gram
Garam, secukupnya
Vanili bubuk, 1/2 sendok teh
Air hangat, 100 ml
Margarin secukupnya, untuk olesan

Cara membuat Wingko Babat :

Campur kelapa, gula, garam, vanili, dan air hangat hingga rata. Uleni hingga gula larut.
Tambahkan tepung ketan sambil terus diaduk hingga rata.
Panaskan cetakan kue lumpur atau pan dadar anti lengket. Olesi cetakan dengan margarin.
Tuang adonan wingko secukupnya, masak di atas api kecil hingga matang dan kecokelatan sambil sesekali dibalik, angkat. Sajikan.

Untuk 16 buah Wingko Babat
~~

Wingko Babat Rasa Durian
Bahan :
– Tepung ketan putih 150 gram
– kelapa parut (diparut memanjang) 300 gram
– vanili bubuk secukupnya
– daging durian 200 gram
– garam 1/4 sendok teh
– gula pasir 200 gram
– telur ayam 2 butir
– santan kental 150 gram

Cara Membuat
– campur tepung ketan bersama kelapa parut, vanili bubuk, gula dan garam, aduk rata.
– tambahkan telur, aduk bersama adonan, lalu tuangkan santan sedikit demi sedikit, masukkan durian, aduk rata.
– siapkan loyang kotak yang sudah diolesi margarine dan diberi kertas minyak, tuang adonan, ratakan.
– panggang dalam oven suhu 60 derajat selama kurang lebih 30 menit atau sampai matang/harum, angkat dan dinginkan.
– setelah dingin, potong-potong dan sajikan.

Untuk rasa lainnya, caranya sama dengan resep wingko rasa durian, hanya saja durian tinggal diganti, strawberry, nanas, pandan, coklat, dll.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 17, 2012 in resep

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: