RSS

Resep Kue Mochi

14 Sep

kue mochiTidak ada yang tahu dengan pasti dari mana kue mochi berasal. Ada yang bilang  bahwa kue mochi berasal dari China, tapi kue mochi sudah digunakan untuk perayaan tahun baru bagi para bangsawan Jepang selama periode Heian (tahun 794 – 1185).

Pada awal abad ke 10, berbagai jenis mochi digunakan sebagai persembahan kekaisaran pada upacara keagamaan. Catatan dari era tahun 1.070 menyebutkan bahwa kue beras tersebut dikenal dengan nama “mochii.”

Para ahli berdebat tentang teori tentang asal muasal penamaan mochi. Salah satunya menyebutkan bahwa “mochi” berasal dari kata kerja “motsu” yakni ‘untuk menahan atau memiliki’. Hal ini untuk menandakan bahwa mochi adalah makanan yang diberikan kepada para dewa. Selain itu, “mochi” diidentikkan dengan “mochizuki” yang punya arti ‘bulan purnama’ dan “muchimi” yang punya arti ‘lengket’.

Mochi kemudian mulai dikonsumsi oleh masyarakat Jepang pada umumnya, para petani Jepang suka makan mochi pada musim dingin demi meningkatkan stamina mereka. Para samurai juga suka makan mochi. Selain mudah disiapkan, mochi juga mudah dibawa kemana saja, sehingga tidaklah heran kalau para samurai tersebut dibekali mochi kalau pergi berperang, karena, konon suara tumbukan dalam pembuatan mochi menandakan para samurai hendak maju ke medan perang.
Jadi, sudah tradisi bagi orang-orang Jepang memakan mochi.

Namun, kini, di era modern ini, ketika para samurai dan kekaisan periode Heian sudah tidak ada, maka diambillah semacam kebiasaan tentang waktu yang tepat untuk memakan mochi. Dan orang Jepang memilihnya saat  menyambut tahun Baru Masehi yang jatuh pada setiap tanggal 1 Januari. Itulah mengapa demi menyambut tahun baru, banyak orang Jepang melakukan mochitsuki atau membuat kue mochi secara tradisional yang pembuatannya dimulai pada pertengahan Desember hingga akhir bulan Desember.

Cara Tradisional pembuatan mochi oleh orang Jepang adalah dengan menggunakan palu kayu untuk menumbuk beras (beras dan ketan) yang sudah dicampur dengan air dan dikukus. Kemudian adonan mochi yang sudah dikukus tersebut ditempatkan dalam satu wadah batu atau kayu dan ditumbuk dengan memakai palu kayu hingga adonan lembut. Namun kini, ketika teknologi semakin canggih ada alat modern untuk membuat adonan mochi menjadi halus sehingga tidak memelukan kayu palu lagi.

Lalu mengapa mochi juga terkenal di sukabumi?

Mochi terkenal di Sukabumi karena dikenalkan oleh orang-orang Cina yang membawa mochi ke sukabumi pada khususnya dan ke wilayah Indonesia lainnya, pada umumnya.

Salah satu mochi yang cukup terkenal di Sukabumi adalah Mochi Lampion. Mochi Lampion berdiri sejak tahun 1983 dan disebut-sebut sebagai pembuat mochi pertama di Sukabumi. Mochi lampion pada mulanya tidak memiliki cabang, letaknya di jalan Bhayangkara, gang Kaswari. Namun ketika usaha mochi ini kian pesat, maka dibukalah cabang kedua yang berada di mulut gang Kaswari II, tidak jauh dari jalan raya Bhayangkara. Sekitar 2.000 keranjang mochi diproduksi setiap harinya oleh Mochi Lampion. Jumlah ini dapat meningkat dua kali lipat di saat hari libur atau akhir pekan.

Pada mulanya, mochi dikemas dengan isi kacang tanah, namun seiring berjalannya waktu, isi dari mochi mulai bervariasi, seperti isi duren, strawberry, coklat, keju, blueberri dan lain-lain.

Buat yang ingin membuat mochi sendiri, ini dia resep mochi isi kacang tanah :

Bahan Kulit :

  • 150 gram tepung ketan
  • 30 gram tepung beras
  • 60 gram gula pasir
  • 250 ml air
  • 1 sendok makan air kapur sirih
  • 1/4 sendok teh garam halus
  • 1/2 sendok teh vanili
  • pewarna hijau secukupnya (atau tidak usah memakai pewarna, jika ingin mochi warna natural)

Bahan Isi (semua bahan dicampur dan diaduk rata) :

  • 200 gram kacang tanah, sangrai, haluskan
  • 100 gram selai kacang
  • 1 sendok makan susu kental manis
  • 3 sendok makan gula halus

Bahan Pelengkap :

  • 100 gram tepung meizena, sangrai dengan api kecil

Cara Membuat :

  1. Campurkan dan aduk rata semua bahan kulit, kecuali air, yang dituangkan terakhir sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga adonan kalis.
  2. Kukus adonan selama 15 menit. Setelah 15 menit keluarkan adonan lalu aduk-aduk selama 2 menit. Kukus lagi adonan hingga benar-benar matang sekitar 20 menit. Angkat dan diamkan adonan sampai hangat kuku.
  3. Ambil sejumput adonan, beri 1 sendok teh bahan isi, bentuk bulat-bulat.
  4. Gulingkan ke atas tepung meizena yang sudah di sangrai. Angkat, atur di wadah saji, hidangkan.

 

(Berbagai Sumber)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 14, 2014 in Kuliner, resep

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: