RSS

Wisata Bali

20 Jun

gwk

 Day 1

Hari masih subuh ketika bis yang membawa gue dan rombongan (dari tempat kerja) berangkat menuju bandara Soekarno Hatta. Peserta tour diwajibkan nyampe ke tempat keberangkatan  (yaitu daerah Kemanggisan, Slipi, Jakarta Barat, Indonesia) sebelum waktu sholat subuh. Dan kita sepakat sholat subuh di masjid At Taqwa yang terletak berseberangan dengan tempat kerja.

Hal yang cukup jarang bagi gue melewati jalanan di Jakarta dalam keadaan lengang seperti itu. Ya iyalah, ngapain juga subuh-subuh berkeliaran di jalanan ibukota kalo ngggak ada keperluan apa-apa heuheu. Untung saat itu udara lagi lumayan cerah, ga turun ujan deres jadi cuacanya ga terlalu dingin. Sempet gerimis sebentar sih, tapi udah gitu gerimisnya berhenti. (Backsong Hujan Gerimis by Benyamin S & Ida Royani). Eh ujan gerimis aje.. ikan teri diasinin..eh jangan menangis aje..yang pergi jangan dipikirin..

Acara jalan-jalan kali ini merupakan acara family gathering yang biasa dilakukan ditempat kerja gue. Tadinya ada dua pilihan; pergi ke Padang, sumatera barat atau Bali. Dan mayoritas suara memilih Bali.

Bali menjadi destinasi wisata Indonesia dan dunia sudah sejak lama. Dan gue rasa salah satu sebabnya pasti karena pantai-pantai di bali Indah bingit! Pantai-pantai lainnya lewaaaat… (backsong; welcome to my paradise from steven & the coconut treez wakakak)…welcome to my paradise .. where this sky so blue..where the sunshine so bright..welcome to my paradise..where  you can be free.. where the party never ending…

tapi sayangnya, cuma pantai Kuta, Uluwatu, Tanah Lot, Jimbaran dan pantai Pandawa yang berhasil gue (kita) kunjungi di sanah karena jadwal acara yang begitu padet (kalah padet deh acara ahok dalam rangka menghadapi pilkada tahun depan, hihi).

awan3--Ketika pesawat mengudara, gue akhirnya bernafas lega. But You know? I hate fly. I Always hate flying. Fly isn’t cool at all for me. Gue lebih suka naik kereta api aja daripada naik pesawat terbang.

Jadi sepanjang perjalanan sampe nyampe ke bandara I Gusti Ngurah Rai, gue baca ayat kursi. Yaah,, harap maklumlah, namanya juga phobia, LOL. (No backsong this time.. gimana mau nyanyi kalo lagi takut terbang?)

Tapi di sela-sela ketakutan gue itu, gue sempet juga sih foto-foto pemandangan di luar pesawat. Untungnya gue dapet kursi deket jendela. Yippie. awan1__

Akhirnya pesawat landing di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali (perjalanan kurang lebih 2 jam-an, masa kata temen gue deketan ke denpasar daripada ke bekasi, secara kalo ke bekasi bisa 2 jam lebih karena macet, wakakak).

Nyampe Bandara rombongan dibagi dua bagian yang masing-masing menempati satu bis kecil yang udah disiapkan oleh Mas dan Mbak dari pihak tour & travel yang kita pilih yaitu Panorama Tours.

awan2__

Sebelumnya kita juga sempet dikalungin rangkaian bunga kamboja oleh Gus dan Gek yang nyambut rombongan kita.

O ya ada 4 panggilan untuk orang bali yang sebaiknya kita tau kalau kita mau liburan ke Bali :

1.Bli. Bli artinya kakak (laki-laki). Panggilan ini biasanya diberikan untuk teman laki-laki yang sudah dikenal. Kamu bisa manggil Bli dengan orang yang lebih tua tapi tidak terlalu tua (dihormati) atau tidak terlalu muda bagi kamu. Tapi Bli sebaiknya juga tidak digunakan untuk orang yang tidak dikenal karena beberapa orang belum tentu suka dipanggil Bli, jadi lebih baik kenalan dulu.

2.Mbok. Berbeda di Jawa, Mbok di Bali artinya kakak (perempuan).

3. Gus. Panggilan Gus asalnya dari kata Bagus yang berarti tampan/ganteng/baik untuk laki-laki. Panggilan ini bisa digunakan untuk orang yang tidak kamu kenal tapi umurnya sebaya atau lebih muda dari kamu.

4.Gek. Panggilan Gek berasal dari kata “Jegeg” yang artinya cantik. Panggilan ini ditujukan untuk perempuan yang tidak kita kenal.

Tujuan pertama ketika kita keluar dari bandara I Gusti Ngurah Rai adalah tempat belanja oleh-oleh Krisna. Yup! Shopping first ladies and gentlemen..

Tapi sementara kita jalan-jalan, koper kita langsung dibawa ke Best Western Kuta Beach Hotel (tempat kita menginap selama di bali) oleh beberapa mas dari Panorama dengan menggunakan kendaraan Box tertutup. Kita bakal ketemu koper koper kita di lobby hotel malam nanti setelah selesai jalan-jalan.

Toko Krisna oleh-oleh khas Bali mempunyai 4 cabang. Cabang ke empat (yang kita kunjungi) ada di Jl. Taya Tuban, Kuta, Bali.

Toko Krisna berdiri pertama kalinya pada 16 Mei 2007 dengan pendirinya Bapak Gusti Ngurah Anom yang sekaligus owner dari COK Konfeksi, salah satu pusat baju/kaos Bali.

Toko ini buka selama 24 jam, jadi kapanpun kamu mau belanja di sini ga ada batasan waktu.

Dan hanya berjarak 5 menit dari Bandara.

Di sini terdapat berbagai camilan seperti pie susu, macam-macam keripik, ceker garing dan bermacam kue kering. Juga ada buah salak dan dodol kering. Tidak hanya itu, ada juga berbagai kopi khas Bali seperti Kopi Kintamani, Kopi Mangsi dan Kopi Bali Spirit. Kopi yang ditawarkan pun ada 2 macam, yaitu bubuk dan biji kopi. Harga untuk sekantung kecil kopi antara 10500 sd 100000 IDR.

Setelah puas belanja makanan, kamu bisa belanja pakaian. Di bagian belakang toko merupakan area besar yang khusus untuk pakaian. Dari pakaian anak-anak sampai dewasa. Dari pakaian santai sampai pakaian resmi. Kaos bali yang khas itu (yang tipis dan adem itu) ada juga di marii loh. Harga yang ditawarkan pun masih masuk akal. Sebuah daster anak dihargai (paling murah) 15000 IDR dan sebuah baju Bali dewasa dihargai (paling murah) 25000 IDR.

Selain baju dan makanan masih ada kain khas bali, selimut, bedcover, tas perca kain, tas anyaman, pernak pernik dan aksesoris, bahkan lukisan juga ada!

dipilih kaosnya dipilih!

dipilih kaosnya dipilih!

 

Dari Krisna kita lanjut ke Garuda Wisnu Kencana Culture Park atau taman budaya Garuda Wisnu Kencana. Taman ini terletak di sebelah selatan pulau Bali. Tepatnya di jalan raya Uluwatu, desa Ungasan, Kuta Selatan, kabupaten Badung. Luas dari taman GWK adalah 240 hektar. GWK bisa dicapai dari bandara I Gusti Ngurah Rai kurang lebih 20 menit atau lebih (tergantung kemacetan jalan, mungkin bisa lebih cepet kalo ke sininya naik helikopter.. wiidiih keren.. *ngayal-suka-suka-gue* heuheu)

Daya tarik utama wisatawan berlibur ke GWK culture park adalah untuk melihat patung Garuda Wisnu. Dibangun dan di ukir oleh pengukir dan pematung terkenal bernama, I Nyoman Nuarta patung tersebut tampak tinggi menjulang.155_

Pembangunan tempat wisata di GWK, di prakarsai oleh Yayasan Garuda Wisnu Kencana pada tahun 1992. Pembangunan ini dilakukan dengan tujuan menjadi tempat wisata budaya yang terkenal ke mancanegara.

Yayasan GWK (setelah menyelesaikan konsep dari proyek yang akan dilakukan) memerlukan waktu kurang lebih dua tahun untuk mendapatkan lokasi yang sempurna. Sebelum adanya pembangunan GKW, lokasi yang berada di bukit Ungasan ini dulunya merupakan tempat penambangan batu kapur.

Yayasan GWK menunjuk I Nyoman Nuarta sebagai pematung utama karena I Nyoman Nuarta merupakan salah satu pematung modern terbaik Indonesia.

Dengan berjalannya waktu, tempat wisata di Bali GWK berkembang menjadi sebuah tempat pameran budaya, acara dan atraksi hiburan, serta menjadi forum informasi dan komunikasi untuk budaya lokal, budaya nasional, budaya regional bahkan budaya internasional.

Tiket masuk ke GWK adalah (harga sewaktu-waktu bisa berubah) 60000 IDR untuk dewasa dan 50000 IDR untuk anak-anak.

Tempat berikutnya yang gue dan teman-teman kunjungi adalah Pantai Pandawa. Cucok banget deh kalo abis panas-panasan di GWK terus maen air di pantai.

Pantai Pandawa terletak di balik perbukitan  dan biasa disebut sebagai pantai rahasia (secret beach). Letak pantai Pandawa adalah di Kuta Selatan, kabupaten Badung, Bali. Di sekitar pantai terdapat dua tebing yang sangat besar yang pada salah satu sisinya dipahat lima patung Pandawa dan Kunti. Keenam patung tersebut secara berurutan (dari posisi tertinggi) diberi nama Dewi Kunti, dharma Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa.

Selain untuk tujuan wisata dan olahraga air, pantai ini juga dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut karena kontur pantai yang landai dan ombak yang tidak sampai ke garis pantai. Dan cukup banyak juga wisatawan domestik dan mancanegara yang melakukan paralayang dari bukit Timbis hingga ke pantai Pandawa.

Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore ketika kita sampai di pantai Pandawa. Cuaca saat itu sedang cerah-cerahnya. Matahari bersinar terik sekali sehingga lumayan terasa panas menyengat menerpa kulit. Tapi tentu saja udara panas ini yang dicari bule-bule yang berseliweran di pinggir pantai secara cuaca sepanas ini mungkin tidak mereka dapatkan di negara mereka.

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Di sepanjang pinggir pantai, terdapat kios-kios kecil untuk jualan makanan dan minuman. Dan pastinya gue menyempatkan diri untuk minum es kelapa muda yang dicampur sirup dan es batu.. slurrrphh .. segar.

Harga kelapa muda (satuan) yang gue minum ternyata sama saja seperti di pantai/tempat lainnya di pulau Jawa yaitu sekitar 10000 IDR. Makanan atau camilan lainnya juga banyak terdapat di sini, jadi jangan takut kelaparan karena nggak menemukan makanan hehe. O, ya, bagi kamu yang badannya rada-rada pegel gimana gitu, ada jasa pemijitan di pinggir pantai loh. Wow.

pantai pandawa copy

at Pandawa Beach

 

Dari pantai Pandawa, tour di lanjutkan ke Uluwatu temple atau pura luhur Uluwatu. Pura Uluwatu adalah salah satu Pura Sad Kahyangan Jagat yang dipercaya oleh umat Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Juga dipercaya sebagai Pura penyengker. Pura Sad Kahyangan atau Sad Kahyangan Jagad adalah enam pura utama yang menurut kepercayaan masyarakat Bali merupakan sendi-sendi pulau Bali.

Pura Uluwatu pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.

Uluwatu Temple

Uluwatu Temple

Pura Uluwatu terletak di desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan, kabupaten Badung. Yang paling unik dari keberadaan Pura ini adalah letaknya di pinggiran tebing dengan ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.

Nah, di hutan kecil itulah dan di beberapa tempat di pekarangan Uluwatu temple biasanya monyet-monyet berkeliaran. Kata Bli Gede, tour guide yang nemenin kita jalan-jalan, monyet-monyet itu jail, jadi  kalo kamu memakai perhiasan yang melekat di tubuh kayak anting-anting, jam tangan, kacamata, dll, sebaiknya dilepas saja, karena monkey-monkey itu (dari yang udah-udah) hobi bingit menjambret perhiasan yang kita kenakan.

Harga tiket ke Uluwatu temple 20000 IDR sementara untuk parkir kendaraan 5000 IDR untuk mobil sementara untuk bis 10000 IDR. By the way kita ke Uluwatu selain untuk lihat pemandangan yang indah, juga mau lihat sunset sambil nonton tari Kecak. Tari Kecak di Uluwatu termasuk obyek wisata yang tak boleh terlewatkan. Kita harus mengenakan sarung terlebih dahulu sebelum masuk, sebagai tanda menghargai budaya lokal.

Nonton tari kecak ternyata harus bayar. Berbeda dengan ongkos masuk ke kuil, untuk nonton tari kecak, para wisatawan diharuskan membayar tiket 100000 IDR per orang.

tari kecak

Panggung untuk menari kecak ini sangat keren karena dilatarbelakangi laut Uluwatu yang biru mempesona. Tiupan air laut yang sepoi-sepoi membuat mata jadi ngantuk.. rasanya pengen bobo aja di pinggir laut hihihi.

nonton tari kecak

Para turis yang mayoritas dari mancanegara mulai berdatangan. Seperti sebuah upacara keagamaan, para penari diberikan air suci terlebih dahulu sebelum memulai tarian.

Tari Kecak biasanya disebut sebagai tari “Cak” atau tari api (Fire Dance) merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cendrung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya menggambarkan seni peran dari “Lakon Pewayangan” seperti Rama Sita dan tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan dan upacara lainnya.

uluwatu__

nonton tari kecak yuk!

Bentuk – bentuk “Sakral” dalam tari kecak ini biasanya ditunjukan dalam hal kerauhan atau masolah yaitu kekebalan secara gaib sehingga tidak terbakar oleh api. Tidak seperti tari bali lainnya yang menggunakan gamelan sebagai musik pengiring dalam pementasan tari kecak ini hanya  memadukan seni dari suara – suara mulut atau teriakan – teriakan seperti “cak cak ke cak cak ke” sehingga tari ini disebut tari kecak.

Suara nyanyian 100 penari dimulai dengan duduk melingkar. Mereka menyanyi dengan koor terstruktur seperti permainan gamelan, dengan nada dan ritme yang bervariasi. Lagu ini mengiringi sebuah cerita yang dipentaskan dengan tarian yang menceritakan epos Ramayana. Bagian yang menjadi cerita pada pementasan ini adalah ketika Rama dan Sita berburu rusa, lalu Sita diculik Rahwana dan terakhir adalah kisah Hanuman yang mengalahkan Rahwana. Menyaksikan tarian kecak dan tarian alam di tebing Uluwatu merupakan pengalaman yang mampu memberikan daya magis tersendiri. Euforia mistis dipadu dengan koreografi tarian yang memasukkan unsur komedi akan membuat kamu terkesan. Belum lagi sunsetnya yang indah. Duh.

Sunset di Uluwatu

Sunset di Uluwatu

Sunset di Uluwatu

Sunset di Uluwatu

 

Rasanya cukup lelah ketika aksi tari kecak itu selesai juga (jadi yang lelah bukan para penari saja, gue yang nonton juga lelah hihihi).

O ya ada kejadian lucu tentang monyet-monyet jail itu yaitu ada beberapa turis (kayaknya turis mancanegara, kurang jelas juga abis suasananya gelap) yang barangnya dicuri salah satu monyet pas lagi asik nonton sehingga terjadi sedikit keributan. Dasar monyet. Walhasil temen gue ngibrit ketakutan dan dia memilih nunggu di bis dan tidak melanjutkan nonton tari. Gue nyusul kurang lebih setengah jam kemudian, sementara pertunjukkan masih berakhir sekitar setengah jam-an lagih. Abis udah gelap banget. Sementara lampu sama sekali nggak dinyalakan di area itu (atau emang nggak ada lampu?).

Dan sama seperti beberapa temen gue, akhirnya kita nunggu yang lain selesai nonton sambil ngerumpi. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam lebih (lupa tepatnya hehe) ketika akhirnya semua peserta rombongan ngumpul dan bis keluar dari Area Uluwatu Temple. Bye bye monyet. Lain kali jangan jail lagi yah.

Sebelum kita check in di Best Western Kuta Beach Hotel (hotel ini letaknya 100 meteran dari pantai kuta), masih ada satu tempat lagi yang kita kunjungi yaitu dinner di jimbaran! Yippie. Makan seafood kita broh..  yummie!

Jimbaran merupakan salah satu tempat favorit untuk makan sea food di bali. Lokasinya yang dekat dengan Kuta dan Nusa Dua membuat jimbaran menjadi salah satu tempat wisata kuliner khas bali yang cukup populer. Di sekitar Jimbaran, terdapat beberapa desa nelayan sehingga restoran-restoran sea food di Jimbaran bisa mendapat pasokan ikan segar dari nelayan.

jimbaran__

dinner nyok!

Saat dinner, suasana kerennya terasa. Sambil makan kita mendengar deburan ombak memecah batu karang, diiringi suguhan tarian tradisional bali yang terkenal. What a night!

penari

dua penari tradisional bali yang cantik di jimbaran beach

Yang mau candle light dinner, ga ada salahnya mampir di marii… asik bingit soalnya! gue rekomendasikan banget.

Sehabis makan, akhirnya kita berangkat menuju hotel. Semua orang kayaknya udah kecapekan dan ngantuk bingit pengen tidur. Yeah, dalam satu hari beberapa tempat berhasil kita kunjungi itu sesuatu.

Setelah nyampe kamar, gue akhirnya puas-puasin mandi (abis seger sih!) sebelum akhirnya ngegubrak tidur. Night Bali. Night World. Sleep Well.

Day 2

Di hari kedua semua orang sepertinya semangat lagi untuk wisata ke tempat tempat keren lainnya. Semuanya sepertinya punya semangat dan tenaga baru. Yah gimana ga semangat kalo udah dicharger breakfast yang yummie. Hehe.

Di hari kedua ini ada 3 tempat yang akan kita kunjungi yaitu Pabrik kata-kata Joger yang merupakan tempat belanja oleh-oleh, lalu ke tempat wisata Bedugul dan terakhir dilanjutkan pergi ke Tanah Lot.

Sebelum memulai acara gue sempet foto-foto suasana di luar hotel yang sunyi senyap (iyalah secara masih subuh). Ketika membuka jendela kamar angin dingin langsung menerpa, seger bingit. Sambil menyeruput kupi item panas gue menikmati pemandangan di luar kamar. Gue dan temen gue dapet kamar di lantai 5.

view from best western kuta beach hotel at 5 am

view from best western kuta beach hotel at 5 am

Ketika bis mulai berangkat meninggalkan hotel, Bli Gede, tour guide kita – sesuai tugasnya – mulai bercerita tentang kehidupan masyarakat bali.

Di sepanjang jalan yang dilalui, gue menemui banyak rumah masyarakat Bali yang di depannya terdapat pura atau tempat sembahyang. Menurut Bli Gede, setiap masyarakat yang beragama Hindu di bali pasti memiliki pura untuk tempat sembahyang mereka, sekecil apapun pura itu. Pura yang ada di rumah masing-masing keluarga ini disebut dengan nama sanggah/merajan.

Sanggah/Merajan ini merupakan tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah para leluhur terutama ibu atau bapak yang sudah tiada dan berada di alam baka (sunia loka). Pembuatan sanggah/merajan tidak sekedar hanya hiasan belaka, namun didasari atas landasan yang menaunginya seperti dalam Bhagawad Gita.

Pada mulanya bahan untuk membuat sanggah adalah dari pepohonan terutama pohon dapdap yang dipercayai sebagai taru sakti (tanaman yang mudah tumbuh dan secara filosofis memiliki makna tumbuhan pemarisudha atau pembasmi segala kekotoran). Sanggah yang terbuat dari pohon dapdap sering disebut sanggah turus lumbung, namun sejalan dengan pertumbuhan ekonomi maka didirikanlah sanggah permanen.

Mengenai batasan waktu penggunaan turus lumbung tidak ada ketentuannya sebab sesuai dengan ajaran agama hindu yang luwes, pengalamannya selalu dikembalikan kepada umat yang bersangkutan, terutama masalah kemampuan umat untuk membuat sanggah yang permanen atau tidak.

Sepanjang jalan menuju Joger ternyata banyak sawah, hutan dan ladang sayuran yang ditemui. Joger adalah sebuah tempat belanja oleh-oleh yang menjual antara lain kaos, tas, sandal dan pernak-pernik atau aksesoris lainnya. Joger di kenal juga sebagai pabrik kata-kata, karena design kaos di sini mostly menampilkan kalimat-kalimat motivasi atau kalimat lucu yang banyak mengandung filsafat hidup.

Kata Joger merupakan perpaduan nama depan dari Joseph theodorus Wulianadi (yang merupakan owner dari Joger) dengan nama teman sekolahnya di Jerman, Gerhard. Harga kaos (uk. dewasa maupun anak-anak) beragam, tapi paling murah rata-rata adalah 60000 IDR.

Joger berada di dua lokasi. Lokasi pertama adalah di jl raya Kuta, hanya memerlukan waktu 10 menit dari bandara untuk mencapainya. Sedangkan yang kedua (yang gue dan teman-teman kunjungi) adalah joger yang berada di desa Luwus, Bedugul, Bali, tepatnya di jalan Mekarsari – Luwus KM 37.5, Tabanan. Kenapa tempat kedua yang dipilih karena jalurnya searah menuju tempat wisata Bedugul.

Joger Baturiti Tabanan

Joger Baturiti Tabanan

Daan.. karena gue sayang keponakan,, maka beberapa baju lucu dan unyu yang berwarna pink gue beli untuk keponakan-keponakan perempuan tercintah.

bedugul1

at tempat wisata Ulun Danu Beratan Bedugul

Destinasi berikutnya adalah tempat wisata Bedugul. Jalanan dari Joger menuju tempat wisata ini mengingatkan gue pada suasana puncak di Cipanas. Jalannya berkelok-kelok menanjak menaiki bukit sementara di sisi kiri dan kanan jalan banyak sayuran yang ditanam seperti kol, tomat, bit, wortel serta hamparan sawah yang terlihat siap panen di beberapa tempat.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya kita tiba juga di tempat wisata yang dituju yaitu tempat wisata Ulun Danu Beratan, dimana di tempat wisata ini selain terdapat taman dengan bunga-bunganya yang indah dan beraneka warna, lalu danau yang cukup luas, terdapat juga sebuah pura yang dikenal dengan nama Pura Ulun Danu Beratan.

Sejarah pura Ulun Danu Beratan ini dapat diketahui berdasarkan data arkeologi dan data sejarah yang terdapat pada lontar babad Mengwi. Berdasarkan data arkeologi yang terdapat dan berlokasi pada halaman depan pura Ulun Danu ini adalah terdapat peninggalan benda-benda bersejarah seperti sebuah Sarkofagus batu dan papan batu yang diperkirakan telah ada sejak zaman megalitikum, sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Kedua artefak tersebut sampai sekarang diletakkan di halaman teras (babaturan) pura Ulun Danu. Dapat diperkirakan lokasi di Pura Ulun Danu Beratan ini telah digunakan sebagai tempat untuk mengadakan ritual sejak jaman tradisi megalitikum.

O ya bagi kamu yang belum tau, Pura Ulun Danu beratan ini dijadikan gambar di uang pecahan 50000 IDR loh.

limapuluhribu_

Ketika gue turun dari bis, hawa sejuk langsung menerpa. Cuaca di Bedugul memang terkenal sejuk karena suhunya berkisar antara 18 hingga 22 derajat celsius. Itu sebabnya kabut sering turun di daerah ini. Lokasi dari tempat wisata ini berada di ketinggian 1.239 dpl (di atas permukaan laut). Untuk menuju objek wisata ini diperlukan waktu kurang lebih 2 jam dari Kuta atau terletak sekitar 55 Km dari Denpasar, dan 70 Km dari Kuta.

bedugul3

Jam bukanya adalah dari jam 08.00 sampai 18.00 WTA. Tapi kalau kabut sedang turun, objek wisata ditutup lebih cepat. Untuk harga tiket masuk, dewasa 10000 IDR per orang dan anak-anak 7500 IDR per anak. Tiket untuk turis mancanegara di bedakan loh. Ugh. Untuk dewasa 30000 IDR dan untuk anak-anak 15000 IDR.

O, iya tidak jauh dari pelataran parkir ada beberapa kios yang berjejer rapi menjajakan dagangannya. Banyak yang dijual di sana dari mulai baju, kaos, mukena, tas dan pernak- pernik lainnya. Dan cukup murah loh! Untuk sebuah mukena bali (bahannya adem!) harganya cuma 60000 IDR sajah. Gue langsung beli mukena tersebut untuk mommy dan my lovely sister ^_^ sebagai oleh-oleh.

di sela kunjungan ke objek wisata Ulun Danu Beratan sempat 'mengintip' upacara keagamaan masyarakat bali yang dilakukan di salah satu pura di area terebut

di sela kunjungan ke objek wisata Ulun Danu Beratan sempat ‘mengintip’ upacara keagamaan masyarakat setempat yang dilakukan di salah satu pura di area tersebut

Capek berkeliling, kita akhirnya lunch dulu dan sholat dzuhur karna waktunya udah mencapai jam duabelas lebih. Kita lunch di Ulun Danu Beratan buffet lunch, sebuah restoran yang berseberangan dengan objek wisata Ulun Danu Beratan yang menyajikan makanannya dengan cara prasmanan (buffet), sementara untuk sholat dzuhur dilakukan di salah satu masjid tidak jauh dari restoran tersebut.

Setelah kenyang, kita akhirnya melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot. Selama perjalanan gue memutuskan untuk tidur. Abis udaranya adem hehe.

Nyampe Tanah Lot gue sama teman-teman *dengan semangatnya* langsung berjalan ke objek wisata tanah lot. Jarak antara parkir kendaraan dengan objek wisata cukup jauh. Di sepanjang jalanan menuju objek wisata ini banyak sekali penjual yang menjajakan dagangannya. Kali ini, dagang yang dijajakan lebih komplit dari tempat-tempat yang pernah didatangi sebelumnya. Beraneka makanan dan pakaian ada di sini. Tapi gue belum mau belanja-belanji dulu, gue mau selfie dan wefie dulu bareng teman-teman hehe.

Ketika akhirnya tiba di objek wisata, kita langsung sibuk ber wefie ria. Masak ada beberapa bule cowok minta foto bareng kita-kita ciyeeehh.

pura tanah lot

Di Tanah lot ini selain pemandangan pantai yang indah, juga terdapat pura yang letaknya di sebuah batu karang yang menjorok ke laut yang sepertinya agak susah untuk dijangkau.

Menurut legenda, Pura Tanah Lot dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16 Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha.

Pura Tanah Lot

Pura Tanah Lot

Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Danghyang menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot – dengan kekuatannya – beliau memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura di sana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra.
Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben ‘akhirnya’ menjadi pengikut Danghyang Nirartha.
Obyek wisata tanah lot terletak di desa Beraban kecamatan Kediri kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Turis-turis biasanya ramai berdatangan ke pura ini pada sore hari untuk melihat keindahan sunset. Odalan atau hari raya di Pura ini diperingati setiap 210 hari sekali, sama seperti pura-pura yang lain. Jatuhnya dekat dengan perayaan Galungan dan Kuningan yaitu tepatnya pada hari suci Buda Cemeng Langkir. Saat itu, orang akan ramai bersembahyang di Pura Ini.
tanah lot bali__
Puas berfoto-foto saatnya belanja! never bored to shopping! Shopping is a big part of our life.. so enjoy shopping whenever or whereever you are. hihihi.
Kalo para keponakan cewek udah dibeliin baju (untuk oleh-oleh) di joger. Nah oleh oleh untuk para keponakan cowok nyari di sini. What a lovely auntie! dududulalala.
Dari Tanah Lot kita akhirnya pulang ke hotel. Kita sempat melewati lokasi Bom bali 2 (yang dulunya) Raja’s Cafe, yang terletak di Kuta Town Square. Bli Gede langsung cerita horor  tentang tempat itu bahwa ada yang beginilah dan begitulah setelah tragedi itu terjadi. Ah Bli ada-ada saja!.
Nyampe di hotel kita istirahat dulu sebelum berkumpul lagi selepas sholat isya untuk dinner. Dinner dilakukan  di hotel karena akan ada acara game, dance, nyanyi sama bagi-bagi door prize.  Lumayanlah gue dapet handuk hahaha. Daripada lumanyun.
O ya ada bagi-bagi bingkisan oleh-oleh juga untuk dibawa pulang berupa pia susu khas bali dan kacang bali. Alhamdulillah.
Abis itu, istirahat di kamar masing-masing… Zzzzzzzz
Day 3
Pagi yang tenang dan dingin (secara ac lupa dikecilan) gue bangun dengan mata beraat banget. Hm… Last day.. rasanya sedih gimana gituh kalo harus kembali pulang ke jakarta. Hehe. Party is over.
Tapi karena jadwal pulangnya jam tujuh malem, kita masih bisa pergi ke tempat lainnya yang emang udah dijadwalin untuk dikunjungi. Setelah beres packing dan sarapan, kita sempet ngadain acara game dulu di pantai kuta. Ada berbagai macam permainan menarik dan hadiah menarik untuk dibagikan pada para pemenang, sayang gue nggak dapet satupun secara kalah dalam permainan. hiks.
Pagi di pantai kuta..

Pagi di pantai kuta..

Selesai acara games, kita langsung check out. Koper-koper kita sama seperti waktu kedatangan ke bali di hari pertama, langsung dihandle beberapa mas dari Panorama. Kita bakal ketemu koper kita di bandara malam nanti.
Tujuan utama kita di hari ketiga adalah kunjungan wisata ke desa adat penglipuran. Tapi sebelum mencapai desa tersebut kita sempat singgah di beberapa tempat; makan siang di bebek Made Joni, Ubud, Gianyar, lalu sempat belanja tas dan aksesoris khas bali lainnya di sebuah toko souvenir yang penuh dengan barang etnik bali (yang sayangnya gue lupa nama tempatnya).
at bebek made joni ubud

at bebek made joni ubud

Selesai berbelanja, kita melanjutkan lagi perjalanan ke desa Penglipuran. Untuk mengisi kekosongan waktu dan biar pada nggak ngantuk, Bli Gede akhirnya cerita tentang hantu yang terkenal di bali yaitu, leak. Ah Bli bikin merinding ajah. Sengaja kali ya cerita horor begitu biar kita-kita nggak tidur hehe.
Leak dalam mitologi Bali adalah penyihir jahat. Le artinya penyihir dan ak artinya jahat. Leak hanya bisa dilihat di malam hari oleh para dukun pemburu leak. Di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, sedangkan pada malam hari ia berada di kuburan untuk mencari organ-organ dalam tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat ramuan sihir. Ramuan sihir itu dapat mengubah bentuk leak menjadi seekor harimau, kera, babi atau rangda (ratu ilmu hitam atau ratu leak).
Leak juga sering mengincar seorang wanita hamil untuk menghisap darah bayi atau anak yang baru lahir, untuk melengkapi kemampuan magisnya.
Musuh utama leak adalah barong, karakter dalam mitologi Bal, barong adalah raja dari roh-roh, pemimpin tuan rumah yang baik. Barong dan Rangda ada di urutan alam kosmos dan mewakili Baik dan Jahat.
Sehabis mendengarkan cerita horor akhirnya kita tiba di desa Penglipuran. Desa Penglipuran adalah desa tradisional masyarakat bali yang sering dijadikan objek wisata karena tempatnya yang unik.
Desa ini sangat kental dengan kerukunan dan kebersamaan hidup antar penduduknya. Lokasi desa Penglipuran adalah di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli, Bali. Desa ini pernah dianugerahi penghargaan kalpataru yaitu penghargaan di bidang lingkungan hidup.
Menurut masyarakat sekitar, kata penglipuran diambil dari kata Pengeling Pura yang memiliki makna tempat suci yang ditujukan untuk mengenang para leluhur.
Desa Penglipuran berada di ketinggian 600 hingga 7000 meter di atas permukaan laut sehingga tidak perlu heran kalo udara di sini cukup sejuk. Tidak ada sarana transportasi umum untuk mencapai desa Penglipuran sehingga mau tidak mau kita harus menyediakan sendiri transportasi untuk bisa tiba di sana. Banyak wisata yang datang ke sini dengan menggunakan mobil atau motor rental atau menyewa mobil tanpa supir. (Jalan sendiri dong mobilnya hihihi).
Biaya masuk ke desa Penglipuran untuk dewasa adalah 15000 IDR sedangkan untuk anak 10000 IDR, untuk turis mancanegara seperti di tempat-tempat lainnya dua kali lipat jumlahnya ; dewasa 30000 IDR anak-anak 25000 IDR.
at desa penglipuran

at desa penglipuran

Desa Penglipuran terkenal dengan kebersihan dan kerapihannnya. Bentuk dari tiap-tiap rumah penduduk hampir sama. Kemiripan dari tiap-tiap rumah ini terlihat dari pintu gerbang rumah, atap rumah dan dinding rumah yang menggunakan bambu (pada mulanya, tapi belakangan ada yang menggunakan semen). Pintu gerbangnya hanya muat untuk satu orang dewasa dan biasa disebut angkul-angkul.
pintugerbang

angkul angkul

desa penglipuran bali

desa penglipuran bali

Pengelompokkan tata ruang desa terbagi tiga bagian.
Di bagian utara terletak Pura desa yang disebut Pura Penataran. Letaknya lebih tingi dari rumah penduduk.
Di bagian tengah terdapat rumah penduduk (letaknya lebih rendah dari Pura). Saat ini desa Penglipuran dihuni oleh kurang lebih 226 Kepala Keluarga sementara mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah bertani, berternak dan membuat anyaman bambu (kerajinan tangan).
desapenglipuran1

Luas area dari desa Penglipuran kurang lebih 112 hektar dimana 40% dari lahan desa adalah hutan bambu.

Selain memiliki budaya menghormati alam, penduduk desa Penglipuran  juga memiliki budaya dan tradisi untuk menghormati wanita. Karena adanya aturan desa yang melarang pria untuk melakukan poligami, jika ketahuan melakukan poligami maka akan mendapatkan hukuman dikucilkan dari desa. Nah! emang enak dikucilin. *Eh*

Desa ini juga memiliki budaya hukuman untuk pencurian, bagi yang ketahuan mencuri, akan dihukum untuk memberikan sesajen lima ekor ayam dengan warna bulu ayam yang berbeda di 4 pura leluhur mereka. Dengan cara ini, semua penduduk desa akan mengetahui siapa yang mencuri, sehingga pencurinya merasa malu (kalau punya rasa malu itu juga hihihi).

Pengelompokan tata ruang yang ketiga adalah setra atau kuburan. Walaupun penduduk desa Penglipuran Bali memeluk agama Hindu tapi penduduk desa Penglipuran  tidak mengenal upacara pembakaran mayat, jadi mayat langsung dikubur.

Penduduk desa Penglipuran  memiliki minuman khas yang disebut loloh cemceman, minuman ini memiliki rasa seperti air tape dan memiliki warna hijau karena bahan dasarnya adalah perasan dari daun cemceman.

Loloh cemceman

Loloh cemceman

Lelah berkeliling desa, akhirnya gue sempet ngopi cantik dulu untuk menghangatkan tubuh. Abis itu keliling lagi untuk ngambil beberapa foto.

Selesai berwisata di desa Penglipuran, gue dan rombonganpun akhirnya kembali ke Denpasar dan sempat dinner dulu di sebuah restoran tidak jauh dari Bandara.
Sampe bandara kita ambil koper dan tiket masing-masing. Lalu check-in, boarding dan menunggu keberangkatan pesawat.
Ketika akhirnya pesawat take off meninggalkan bali gue langsung baper (bawa perasaan). Galau gimana gitu. Hahaha.
What a great journey. I Hope someday i can visit this gorgeous island again. With different destinations and different adventures of course. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 20, 2016 in Travelling

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: