Sebenernya udah lama banget gue pengen ngebahas soal PMS (Premenstrual Syndrome) ini, tapi baru sempat sekarang… gue sering bikin catatan2 tentang hal2 yang berkenaan dengan ginekologi (ilmu yang mempelajari system reproduksi wanita), karena ingin tau lebih banyak ajah tentang tubuh wanita (dalam hal ini tentunya tubuh gue heheh… ), nah daripada catatan2 itu gue anggurin, lebih baik sharing di sini, iya apa iya? Yah, kali aja temen2 cewek lain ada yang kurang paham atau kurang mengerti… jadi siapa tau tulisan ini bisa membantu.
PMS, apakah itu?!
Sebelum ngomongin soal PMS, ada baiknya kita ngomongin soal hormon dulu, karena kaitan antara PMS dan hormon erat sekali.
Hormon berasal dari bahasa Yunani, Horman, berarti yang menggerakkan. Fungsi Hormon dalam tubuh selain sebagai pembawa pesan antara sel (atau kelompok sel), juga berfungsi memberi sinyal ke sel target yang selanjutnya melakukan tindakan atau aktivitas tertentu. Salah satu hormon yang berperan sangat penting dalam tubuh wanita adalah estrogen. Para ahli menyebut hormon ini sebagai hormon perempuan.
Hormon estrogen adalah hormon seks yang diproduksi oleh rahim untuk merangsang pertumbuhan organ seks seperti payudara dan mengatur siklus menstruasi. Hormon estrogen ternyata tidak akan diproduksi sepanjang usia wanita. Ketika memasuki usia 40 tahun produksi hormon ini mulai menurun.
Sindrom pramenstruasi
Sindrom pramenstuasi (premenstrual syndrome/PMS) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Hingga 80 persen s/d 95% wanita usia subur mengalami gejala2 pramenstruasi yang dapat mengganggu beberapa aspek dalam kehidupannya.
Gejala ini timbul /terjadi kurang lebih 7 hingga 10 hari menjelang haid (biasanya terjadi secara regular pada dua minggu periode sebelum menstruasi). Hal ini dapat hilang begitu dimulainya pendarahan. Namun dapat pula berlanjut setelahnya. Gangguan kesehatan berupa pusing, depresi, perasaan sensitif berlebihan sekitar dua minggu sebelum haid biasanya dianggap hal yang lumrah bagi wanita usia produktif.
Sekitar 40% wanita berusia 14 – 50 tahun, menurut suatu penelitian mengalami syndrome pra-menstruasi atau PMS (pre menstruation syndrome). Bahkan survai tahun 1982 di Amerika menunjukkan PMS dialami sekitar 50% wanita dengan sosio-ekonomi menengah yang datang ke klinik ginekologi.
PMS adalah kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan haid. Sindrom itu akan menghilang saat dimulai sampai beberapa hari setelah selesai haid.
Penyebab munculnya sindrom ini memang belum jelas. Beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormonal yakni ketidak-seimbangan antara hormon estrogen dan progesteron hormon yang juga bertugas untuk mengatur fungsi kewanitaan diantaranya adalah untuk mengatur siklus menstruasi).
Para peneliti melaporkan salah satu kemungkinan yang kini sedang diselidiki adalah adanya perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan system pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel. Kemungkinan lain, itu berhubungan dengan gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang dialami penderita.
Sindrom ini biasanya lebih mudah terjadi pada wanita yang lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus haid. Akan tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya PMS.
Pertama, wanita yang pernah melahirkan beberapa anak terutama bila pernah mengalami kehamilan dengan komplikasi seperti toksima.
Kedua, status perkawinan (wanita yang sudah menikah lebih banyak mengalami PMS daripada yang belum).
Ketiga, usia (PMS semakin sering dan mengganggu dengan bertambahnya usia, terutama antara 30 – 45 tahun).
Keempat, stress (faktor stress memperberat gangguan PMS).
Kelima, diet (faktor kebiasaan makan seperti tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat, minuman bersoda, produk susu, makanan olahan, memperberat gejala PMS).
Keenam, kekurangan zat gizi seperti kurang vitamin B (terutama B6), vitamin E, vitamin C, magnesium, zat besi, seng, mangan, asam lemak linoleat. Kebiasaan merokok dan minum alkohol juga dapat memperberat gejala PMS.
Ketujuh, kegiatan fisik (kurang berolahraga dan aktivitas fisik menyebabkan semakin beratnya PMS).
Tipe (Gejala) PMS
Tipe dan gejala tipe dari PMS bermacam2. Dr. Guy E. Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, membagai PMS menurut gejalanya yakni PMS tipe A, H, C dan D.
Delapan puluh persen gangguan PMS termasuk tipe A. Penderita tipe H sekitar 60%, PMS tipe C 40%, dan PMS tipe D 20%.
Kadang2, seorang wanita mengalami gejala gabungan misalnya tipe A dan D secara bersamaan (ini gue banged… heheh).
Setiap tipe memiliki gejalanya sendiri, yaitu :
PMS tipe A (anxiety)
Ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil, bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon dimana hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Gejala bisa dikurangi, tapi beberapa peneliti mengatakan pada penderita PMS tipe A bisa jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium. Penderita PMS A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat dan mengurangi/membatasi minum kopi.
PMS tipe H (hyperhydration)
Memiliki gejala edema (pembengkakan), perut kembung, nyeri pada payudara, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Gejala tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe PMS lain, pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita. Pemberian obat diuretika untuk mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh hanya mengurangi gejala yang ada. Untuk mencegah terjadinya gejala ini, penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum sehari-hari.
Sebenernya, darimana sih asal kelebihan air ini?!
Dalam bukunya : Dari Wanita Untuk Wanita, Lucienne Lamson, M.D.F.A.C.O.G menjelaskan bahwa hormon estrogenlah penyebabnya.
“hormon estrogen ternyata mempengaruhi juga fungsi fisiologis yakni pertukaran garam dan air. Makin banyak estrogen dalam system tubuh seorang wanita, makin berkurang garam dan air yang melalui ginjal. Maka makin tinggi tingkat estrogen, makin besarlah simpanan garam dan air. Dengan demikian, tepat sesudah ovulasi, ketika tingkat estrogen tinggi, makin berkurang air yang disaring oleh ginjal. Akibatnya adalah urine yang kamu keluarkan berkurang karenanya, maka air yang tak melalui ginjal dibagikan kembali ke jaringan tubuh kamu.”
Gejala apa lagi yang dapat disebabkan oleh simpanan cairan?
Sakit kepala. Sakit kepala ini bahkan tidak dapat disembuhkan oleh aspirin, dengan ramuan tambahan pun tidak. Cukup mengherankan bahwa penyebab sakit kepala pra-haid yang sesungguhnya mungkin simpanan air dalam jaringan otak. Sesungguhnya, sebagian besar kekalutan emosi, mudah tersinggung, ketegangan syaraf, tidak dapat tidur, tekanan jiwa dan sebagainya, penyebabnya adalah “air dalam otak”. Padahal kamu mungkin mengira bahwa sifat kamu ‘sulit untuk menyesuaikan diri’.
Sampai berapa lama, gejala ini terjadi?
Sampai tingkat estrogen turun ke titik terendah tepat sebelum mulainya haid. Setelah ini terjadi, kemudian ada penurunan dalam simpanan garam dan air. Kamu akan banyak membuang urine. Tubuh kamu akan membuang kelebihan cairan, dan lenyaplah semua gejala pra haid yang tidak nyaman.
Dapatkah kita menyalahkan simpanan air dalam estrogen untuk semua gejala pra haid ini?
Sampai batas tertentu, ya. Walaupun estrogen dapat menyebabkan tersimpannya air, ada beberapa peneliti yang merasa bahwa dasar ketegangan pra-haid yang sesungguhnya adalah ketidakseimbangan antara estrogen dan progesteron. Bahkan ada bukti klinis bahwa beberapa wanita tertentu alergi terhadap hormonnya sendiri – terutama progesteron. Gejala luar biasa seperti hidung bengkak, sakit tenggorokan pada masa pra-haid yang diderita beberapa wanita bisa membuat orang lain heran.
PMS tipe C (Craving)
Ditandai dengan rasa lapar ingin menkonsumsi makanan yang manis2 (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipogklikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh stress, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6) atau kurangnya magnesium.
PMS tipe D (Depression)
Ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang2 muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A. Hanya sekitar 3% dari seluruh tipe PMS benar2 murni tipe D.
Kombinasi PMS tipe D dan tipe A dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu stress, kekurangan asam amino tyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbale di tubuh, atau kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6). Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan dengan PMS tipe A.
Ada pula kram perut pada hari pertama atau satu hari menjelang haid, banyak wanita yang mengeluh sakit perut atau tepatnya kram perut. Gangguan kram perut ini tidak termasuk PMS walaupun ada kalanya bersamaan dengan gejala PMS.
Kram pada waktu haid atau nyeri haid merupakan suatu gejala yang paling sering. Gangguan nyeri yang hebat, atau dinamakan dismenorea, sangat mengganggu aktifitas wanita, bahkan acapkali mengharuskan penderita beristirahat bahkan meninggalkan pekerjaannya selama berjam-jam atau beberapa hari.
Dismenorea memang bukan PMS, juga tidak ada hubungannya dengan PMS yang mulai terasa 10 – 14 hari sebelum gejala haid. Kalau dismenorea membaik atau bahkan hilang sama sekali setelah seseorang melahirkan, tidak demikian dengan PMS. Wanita yang pernah melahirkan malah berisiko lebih tinggi menderita PMS. (tentang dismenorea atau dismenorrhoe nanti dibahas tersendiri)
Untuk mengatasi PMS biasanya dokter memberikan pengobatan diuretika untuk mengatasi retensi cairan atau edema (pembengkakan) pada kaki dan tangan. Pemberian hormon progesteron dosis kecil dapat dilakukan selama 8 – 10 hari sebelum haid untuk mengimbangi kelebihan relative estrogen. Pemberian hormon tetosteron dalam bentuk methiltestosteron sebagai tabled isap dapat pula diberikan untuk mengurangi kelebihan estrogen.
Diet tepat dapat mencegah PMS
Pencegahan PMS dapat dilakukan melalui diet yang tepat dengan memperhatikan hal2 sebagai berikut :
- Batasi konsumsi makanan tinggi gula, tinggi garam, daging merah (sapi dan kambing), alkohol, kopi, teh, coklat, serta minuman bersoda.
- Kurangi rokok atau berhenti merokok.
- Batasi konsumsi protein (sebaiknya sebanyak 1,5 gram per kg berat badan per orang)
- Meningkatkan konsumsi ikan, ayam, kacang-kacangan, dan biji2an, sebagai sumber protein.
- Batasi konsumsi makanan produk susu dan olahannya (keju, es krim dan lainnya), dan gunakan kedelai sebagai penggantinya.
- Batasi konsumsi lemak dari bahan hewani dan lemak dari makanan yang digoreng.
- Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung asam lemak esensial linoleat seperti minyak bunga matahari, minyak sayuran.
- Konsumsi vitamin B kompleks terutama vitamin B6, vitamin E, kalsium, magnesium, juga omega-6 (asam linolenat gamma GLA).
Hal2 lain yang dapat dilakukan untuk mencegah PMS selain diet :
- Melakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur.
- Menghindari dan mengatasi stress.
- Menjaga berat badan. Berat badan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terkena PMS.
- Catat jadwal siklus haid kamu serta kenali gejala2 PMSnya.
- Perhatikan pula apakah kamu sudah dapat mengatasi PMS pada siklus2 bulan berikutnya.
DISMENORRHOE
Dismenorrhoe adalah istilah untuk rasa sakit waktu haid. Sebanyak 16 persen wanita yang mengalami dismenorrhoe, tidak bisa diatasi dengan obat-obat antisakit, dan memerlukan istirahat kerja. Padahal diperkirakan 42 persen tenaga kerja adalah wanita.
Dismenorrhoe dikaitkan dengan produksi hormon progesteron yang meningkat. Hormon progesteron dihasilkan oleh jaringan ikat (disebut corpus luteum), jaringan sebagai pengganti jaringan indung telur setelah melepaskan sel telur yang matang setiap bulan. Bila hormon progesteron cukup tinggi dihasilkan, baru timbul keluhan dismenorrhoe. Dengan demikian, dapat diterangkan mengapa pada awal mendapat haid seorang wanita belum mengeluh sakit waktu haid tetapi setelah beberapa kali haid, baru mengeluh sakit, karena jumlah corpus luteum sudah cukup banyak dan produksi hormon progesteron sudah cukup tinggi.
Penyebab timbulnya dismenorrhoe ada dua, yaitu : primer dan sekunder.
Primer
Yang khas pada dismenorrhoe primer adalah bahwa penyakit ini mulai timbul sejak haid pertama kali (menarch), dan kelihatannya keluhan sakitnya agak berkurang setelah wanita yang bersangkutan menikah, dan hamil.
Penyebab dismenorrhoe primer :
Penyebabnya tidak jelas, tetapi yang pasti selalu berkaitan dengan pelepasan sel2 telur (ovulasi) dari kelenjar indung telur (ovarium) sehingga dianggap berhubungan dengan gangguan keseimbangan hormon.
Dismenorrhoe sekunder
Rasa sakit akibat dismenorrhoe sekunder ini berkaitan dengan hormon prostaglandin. Karena kenyataannya, prostaglandin banyak dihasilkan rahim bila ada benda asing di dalam rahim seperti alat KB, atau tumor.
Prostaglandin berpengaruh dalam meningkatkan kontraksi otot rahim yang bertujuan mendorong benda asing itu keluar. Kelihatannya kontraksi otot rahim meningkat selama haid, dan paling rendakontraksi pada masa lutheal (masa pembentukan corpus luteum dari jaringan ikat bekas telur yang dilepaskan).
Penyebab Dismenorrhoe sekunder
Dismenorrhoe sekunder disebabkan adanya keluhan sakit sewaktu haid akibat kelainan-kelainan organik, seperti misalnya :
- Rahim kurang sempurna karena ukurannya terlalu kecil, atau
- Posisi rahim yang tidak normal, atau
- Adanya tumor dalam rongga rahim, misalnya : myoma uteri;
- Adanya tumor dalam rongga panggul, terutama tumor fibroid, yang letaknya dekat permukaan selaput lendir rahim, adanya selaput lendir rahim di tempat lain (endometriosis), bisa ditemukan dalam selaput usus, di jaringan payudara atau di tempat lain. Pada waktu haid, jaringan selaput lendir yang di luar rahim juga seperti ikut terlepas dan berdarah seperti jaringan aslinya di dalam rahim. Atau bisa juga karena;
- Penyakit-penyakit tubuh lain seperti tuberkulosa, kurang darah (anemia), constipation (BAB kurang lancar), postur tubuh yang terlalu kurus, atau karena
- Udara terlalu dingin.
Pada keluhan dismenorrhoe yang berat, si penderita sampai mengeluhkan otot2 menjadi kaku dan kram, seringnya berkaitan dengan adanya polyp di selaput lendir rahim, atau jaringan fibroid di bawah selaput lendir rahim.
Penyakit rongga panggul yang menahun juga menimbulkan dismenorrhoe dengan rasa sakit menyeluruh di daerah bawah perut, tidak bisa ditentukan lokasinya secara tepat, dan terus menerus. Keluhan sakit pada wanita yang mengidap penyakit peradangan rongga panggul yang akut maupun yang menahun, pada waktu haid akan bertambah berat.
Rasa sakit yang timbul tiba-tiba disertai demam, biasanya berkaitan dengan peradangan rongga panggul yang akut. Pada keadaan ini rasa sakit menyerang di seluruh perut dan berlangsung baik selama darah menstruasi masih keluar maupun setelah darah menstruasi sudah bersih.
Rasa sakit saat haid pada saluran leher rahim yang sempit, biasanya tidak berat, paling-paling hanya rasa tidak enak (discomfort) di bagian bawah perut.
Adalah suatu kenyataan bahwa dismenorrhoe tidak selalu terjadi pada wanita yang mengalami PMS. Dan, sebanyak 20-50 persen dismenorrhoe terjadi pada wanita yang mengkonsumsi obat-obatan seperti obat penenang atau tablet penyegar.
Tanya Jawab Seputar Haid
Sumber : Lucianne Lamson, M.D.F.A.C.O.G; dari wanita untuk wanita
Seberapakah seharusnya kekerapan haid itu?
Walaupun kebanyakan wanita haid setiap 25 hingga 30 hari (daur haidnya), antara 21 sampai 35 hari masih dianggap dalam batas normal, karena jangka waktu antara masa haid tidaklah sepenting pola yang dapat diramalkan.
Bagaimana cara menghitung panjang daur haid?
Panjang daur haid kamu dihitung dari hari pertama suatu masa haid sampai (tetapi tidak termasuk/dihitung) hari pertama haid berikutnya. Sebagai contoh, misal haid kamu tanggal 1 Juli, dan haid berikutnya tanggal 25 Juli, maka panjang daur haid kamu adalah 24 hari. Hari pertama haid adalah hari pertama kamu melihat tanda2 keluarnya darah haid, walaupun hanya setetes. Dengan kata lain, titiknya darah pertama yang mengawali aliran yang sesungguhnya harus dihitung bila memperhitungkan daur haid kamu.
Normalkah mengalami haid 2 kali dalam sebulan?
Mungkin saja. Bagi kamu yang mempunyai daur rata-rata 24 hari, maka bila kamu mulai haid pada tanggal 1 Maret, haid berikutnya harus jatuh pada 25 Maret; 2 x haid dalam sebulan, dalam hal ini sepenuhnya normal.
Berapa lama haid berlangsung?
Rata-rata sampai 5 hari. Tapi banyak wanita yang mengeluarkan darah sampai 8 hari, sedangkan yang lainnya sudah berhenti sama sekali hanya setelah 2 hari saja. Bila ada perubahan masa haid kamu dari bulan ke bulan, itu cukup normal.
Apa yang terkandung dalam darah haid?
Campuran darah, sel mati dan lendir. Darah yang kamu keluarkan (kecuali sedikit darah beku) hampir seluruhnya serum. Sel mati adalah bagian-bagian lapisan tepi endometrium (jaringan selaput lendir yang menjadi lapisan tepi rongga rahim) yang terkelupas, sementara lendir (cairan kental) berasal dari kelenjar saluran servix.
Apakah Servix itu?
Servix adalah leher rahim, sementara saluran yang kemudian melebar ke dalam rongga rahim (uterus) disebut oxservix. Jika kamu melahirkan, saluran inilah tempat meloloskan bayi keluar.
Karena haid tiap bulan, apakah itu berarti kita mengalami ovulasi (masa-masa subur) ?
Belum tentu. Bahkan jika kamu seratus persen normal. Bukan tidak lazim kalau kamu mengalami daur haid anovulatori (tanpa telur). Haid kamu mungkin tetap datang pada waktu yang diharapkan, tapi mungkin kamu tak mengalami ovulasi. Sekerap apa ini terjadi, sulit dikatakannya, tetapi satu atau dua kali terjadi anovulatori dalam setahun, masih dalam batas normal.
Apakah beberapa wanita cenderung mengalami daur tanpa telur?
Tepat sekali. Sesungguhnya daur tanpa telur sangat lazim terjadi pada gadis remaja yang baru mulai haid dan diantaranya wanita separuh baya yang baru mulai masa menopause.
Kapan kemungkinan terbesar seorang wanita mengalami ovulasi?
Itu tergantung kepada panjangnya daur haid kamu. Ovulasi biasanya terjadi 14 hari (lebih atau kurang dua hari masih bisa dianggap masa ovulasi) sebelum perkiraan haid berikutnya. Jika kamu mempunyai daur haid 24 hari, maka masa paling subur kamu atau saat ovulasi akan jatuh pada sekitar pertengahan daur atau tepat 14 hari sebelum masa haid berikutnya. Jadi, jika kamu haid tanggal 1 Juli, maka kemungkinan ovulasi kamu adalah pada tanggal 10 juli (14 hari sebelum masa haid kamu berikutnya), yang jatuh pada tanggal 25 Juli.
Apakah Ovarium bergantian membuat telur?
Menurut penelitian yang dilakukan pada kera Rhesis, rupanya ovulasi bergantian atas dasar bulanan antara kedua ovarium. Namun cara pingpong ini sama sekali tidak ajeg atau mutlak.
Pada wanita yang satu ovariumnya dibuang dengan pembedahan, ovulasi akan terus berlangsung atas dasar bulanan asal ovarium yang masih ada, keadaannya normal. Dengan kata lain, kehilangan satu ovarium tidak membuat kesuburan kamu berkurang. Bahkan ada wanita yang dapat mengandung walaupun hanya mempunyai satu ovarium yang tinggal sebagian.
TENTANG MENOPAUSE
Menopause merupakan fase terakhir, di mana perdarahan haid seorang wanita berhenti sama sekali. Fase ini terjadi secara berangsur-angsur yang semakin hari semakin jelas penurunan fungsi kelenjar indung telurnya (ovarium).
Selama masa peralihan dari siklus haid yang rutin setiap bulan ke masa menopause, terjadi perubahan-perubahan fisik dan juga kejiwaan pada seorang wanita. Pada masa menjelang menopause, estrogen yang dihasilkan semakin turun sampai masa menopause tiba.
Sulit memang untuk menentukan dan mengelompokkan gejala serta tanda-tanda menopause secara medis dengan tepat. Misalnya, mengartikan menopause dengan berhentinya haid. Padahal, menopause bukan hanya ditandai oleh berhentinya haid, tetapi sudah sejak bertahun-tahun sebelumnya sudah ditandai oleh keluhan-keluhan fisik dan psikis.
Tetapi, pada menopause yang terjadi spontan, karena hilangnya pengaruh hormon indung telur, akibat operasi atau pengobatan tidak didahului dengan proses peralihan gejala-gejala fisik dan psikis.
Dari hasil studi retrospektif dan cross-sectional, diketahui bahwa umur rata2 seorang wanita memasuki masa menopause adalah sebagai berikut :
- Pada wanita Eropa (ras Kaukasus) adalah umur 47, 49-50 tahun
- Pada wanita ras Negro adalah umur 49.
- Pada wanita ras Melanesia adalah umur 47.
- Pada wanita ras Asia umur 44 tahun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Usia memasuki menopause
~ Umur sewaktu mendapat haid pertama kali (menarch)
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara umur pertama mendapat haid pertama dengan umur sewaktu memasuki menopause diketahui bahwa semakin muda umur sewaktu mendapat haid pertama kali, maka semakin tua usia memasuki menopause.
~ Kondisi kejiwaan dan pekerjaan
Ada peneliti yang menemukan pada wanita yang tidak menikah dan bekerja, umur memasuki menopause lebih muda dibanding dengan yang tidak bekerja dan menikah.
~ Jumlah anak
Ada penelitian yang menemukan, semakin sering melahirkan, maka semakin tua memasuki masa menopause.
~ Penggunaan obat KB
Karena obat-obat KB memang menekan fungsi hormon dan indung telur, kelihatannya wanita yang menggunakan pil KB lebih lama memasuki umur menopause.
~ Merokok.
Wanita perokok akan lebih cepat memasuki masa menopause daripada yang tidak merokok.
~ Cuaca dan ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut
Dari hasil penelitian diketahui bahwa wanita yang tinggal di ketinggian lebih dari 2000 – 3000 m dari permukaan laut lebih cepat 1-2 tahun memasuki usia menopause dibandingkan dengan wanita yang tinggal di ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut.
Masa Menjelang Menopause (Masa Klimakterium)
Masa klimakterium adalah masa menjelang berhentinya haid secara total. Masa klimakterium bisa berlangsung selama 2 – 3 tahun.
Banyak yang dikeluhkan seorang wanita pada tahun-tahun menjelang berhentinya haid. Para ahli mulai banyak menulis tentang menopause baru sekitar tahun 60an. Hampir 150 macam gejala dan keluhan terjadi pada wanita yang akan memasuki usia menopause, yang umum terjadi adalah :
- Terjadinya pelebaran pembuluh darah tepi;
- Peningkatan frekuensi denyut jantung (berdebar-debar);
- Muka kemerah-merahan dan terasa panas, dan
- Berkeringat pada malam hari;
- Sebagai akibat adanya pelebaran pembuluh darah, ada juga yang menjadi gelisah, dan sakit kepala.
- Dari studi di Belanda, wanita umur 42-62 tahun, sebanyak 17% mengeluhkan mukanya menjadi panas (flushing) dan 40 persen mengeluh bahwa siklus haidnya tidak teratur. Keadaan ini meningkat sampai 60% pada waktu 1-2 tahun menjelang haid berhenti total (menopause);
- Penelitian lain menyebutkan, 21 persen wanita kelompok umur di atas (42-62) mengeluh mukanya menjadi panas setiap beberapa jam;
- Banyak yang mengeluhkan perasaan tidak enak.
MENOPAUSE DINI
Setiap perempuan pasti akan mengalami menopause memasuki usia 50 tahun. Namun dalam perkembangannya, perempuan berusia 35 tahun pun bisa mengalami menopause atau dikenal dengan istilah menopause dini.
Ada beberapa hal yang bisa memicu terjadinya menopause dini, antara lain : penyakit atau mengalami gangguan hormon, sehingga hormon estrogen tidak bisa diproduksi lagi.
Ada pula perempuan yang karena penyakit tertentu sehingga indung telurnya harus diangkat. Begitu indung telur (ovarium) diangkat, maka akan kekurangan hormon estrogen karena yang memproduksi hormon estrogen adalah indung telur.
Hal tersebut bisa menjadi penyebab yang tak bisa ditolak perempuan, namun ada juga penyebab menopause dini yang justru karena gaya hidup (lifestyle).
Gaya hidup yang ingin selalu instan dalam mengkonsumsi obat2an pelangsing dengan cara yang salah, dapat memicu terjadinya menopause dini. Banyak perempuan yang ingin mendapatkan tubuh langsing lalu menggunakan obat2an pelangsing dengan cara salah. Padahal cara yang benar adalah dengan cara berolahraga dan diet secara teratur.
Gaya hidup salah yang lain adalah: mengubah budaya makan yang sudah benar menjadi salah, contohnya : biasa memakan tempe dan tahu, tapi kemudian ditinggalkan untuk makan makanan junk food. Di dalam makanan siap saji, terkadang tidak terdapat nilai gizi yang seimbang. Tempe dan tahu, ternyata banyak mengandung fitoestrogen nabati/tumbuh-tumbuhan cukup tinggi.
Contoh lainnya: jarang berolahraga padahal olahraga, selain membuat tubuh segar, juga melancarkan peredaran darah, membantu produksi hormon dan menguatkan tulang.
Tips pencegahan menopause dini :
- Hindari makanan yang instan (cepat saji)
- Makan makanan yang mengandung fitoestrogen seperti kacang-kacangan, buah papaya, bengkuang, teh hijau, kacang kedelai serta produk kacang kedelai lainnya seperti tempe, tahu dan tauco. Fitoestrogen juga bisa didapat dari: biji2an gandum, wijen, biji bunga matahari, dan kacang tunggak.
- Banyak minum susu bebas lemak.
- Olahraga secara teratur
(Sumber tulisan : Lucienne Lamson, M.D.F.A.C.O.G, dari wanita untuk wanita, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1987; DR. Faisal Yatim DTM & H, MPH, haid tidak wajar dan menopause, Pustaka Populer Obor, Jakarta, 2001, Wikipedia seputar hormon estrogen, dan sumber lain).

Ada yang suka buah naga ga?! wah… kalo gue kebetulan kurang suka…. tapi denger2 buah naga khasiatnya banyak loh, terutama untuk mengobati lapar, heuheu… biar ga penasaran apa aja khasiat buah naga itu, mending kita cari tau aja, tapi sebelum itu kita liat asal-usul buah naga dulu. O, ya buah ini bisa dimakan secara langsung (kalo udah mateng tentunya), dibikin jus atau dibikin salad.


